Tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang semester I 2026 meningkat hingga 366 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasar laporan dari Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan, dikutip pada Senin, 24 Agustus 2026, periode Januari hingga Juni 2026 luas area yang terbakar mencapai 202.010,96 hektare.
Luas karhutla periode Januari-Juni 2026 tercatat naik sekitar 120 persen dibandingkan 2019, meningkat 110 persen dibandingkan 2023, dan melonjak hingga 366 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Kemudian, lahan yang terbakar, sekitar 54 persen berada di kawasan hutan dan 46 persen terjadi di area penggunaan lain (APL) atau non-kawasan hutan.
Berikut daerah dengan luas karhutla merujuk data Sipongi Kementerian Kehutanan:
| No. | Provinsi | Luas Kebakaran Hutan dan Lahan |
|---|---|---|
| 1 | Kalimantan Barat | 38.310,86 ha |
| 2 | Papua Selatan | 25.838,53 ha |
| 3 | Nusa Tenggara Timur | 19.565,16 ha |
| 4 | Nusa Tenggara Barat | 17.406,46 ha |
| 5 | Riau | 15.738,92 ha |
| 6 | Maluku | 14.677,00 ha |
| 7 | Jawa Timur | 10.835,28 ha |
| 8 | Kalimantan Selatan | 8.019,63 ha |
| 9 | Kalimantan Tengah | 7.634,46 ha |
| 10 | Kepulauan Riau | 5.760,90 ha |
Di provinsi lain juga ada karhutla, yakni Lampung (4.890,26 hektare), Aceh (4.070,48 hektare), Sulawesi Tengah (3.138,10 hektare), Kalimantan Timur (2.715,76 hektare), serta Sulawesi Tenggara (2.735,48 hektare).
Sementara itu, DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi dua provinsi yang tidak ada karhutla hingga Juni 2026.
Perhitungan luas karhutla dilakukan melalui analisis citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS yang dipadukan dengan data sebaran titik panas (hotspot), hasil pengecekan lapangan, serta laporan pemadaman yang dilakukan oleh Manggala Agni.






















