Sekretaris Jenderal DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Muhammad Kholid menyorot dampak ekologis karhutla yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
“Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon dan lahan. Di dalamnya ada sebuah ekosistem. Ada satwa liar yang kehilangan rumah, sumber makanan, bahkan kehilangan nyawa. Sebagian merupakan spesies yang dilindungi dan membutuhkan waktu sangat panjang untuk dipulihkan,”
kata dia dalam keterangannya, Senin, 24 Agustus 2026.
Sorotan Kholid bukan tanpa alasan. Di Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, ketika tim Manggala Agni memadamkan api, mereka menemukan satwa yang mati terbakar.
Anggota Komisi XI DPR RI itu berucap kematian satwa menjadi gambaran bahwa dampak kebakaran tidak berhenti pada kawasan yang terbakar. Api yang merambat ke habitat satwa turut menghancurkan ekosistem tempat hidupnya.
Bahkan satwa liar, termasuk orangutan, harus dievakuasi setelah habitat terbakar.
“Bagi satwa liar, kebakaran berarti kehilangan tempat berlindung sekaligus sumber makanan. Satwa yang berhasil menyelamatkan diri pun belum tentu menemukan habitat yang aman setelah api padam,”
ujar dia.
Biodiversitas Vital
Kholid meminta pemerintah tidak menempatkan perlindungan satwa sebagai agenda tambahan dalam penanganan karhutla, sebab perlindungan biodiversitas harus menjadi bagian integral dari operasi penanggulangan bencana.
Ia meminta Kementerian Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) memperkuat pemetaan kawasan rawan kebakaran. Jalur penyelamatan satwa dan kapasitas tim evakuasi juga harus diperkuat selama masa darurat.
“(Hal) yang dihadapi bukan hanya lahan yang terbakar. Ada ancaman kesehatan waerga, ada anak-anak dan lansia yang menghirup udara tidak sehat, satwa yang kehilangan habitat. Bila ditemukan unsur kesengajaan, ada pihak yang harus bertanggung jawab. Semua harus ditangani secara bersamaan,”
ujar Kholid.
Dampak ekologis karhutla juga menunjukkan bahwa penanganan tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pemerintah harus memastikan kawasan yang menjadi habitat satwa mendapat perhatian khusus selama operasi berlangsung.
Buru Pelaku
Jika kebakaran terjadi akibat kesengajaan, kerusakan terhadap habitat dan kematian satwa semestinya tidak dipisahkan dari proses penegakan hukum. Aparat harus menelusuri penyebab kebakaran dan pihak yang bertanggung jawab bila ditemukan unsur kesengajaan.
Penegakan hukum tidak hanya berhenti pada orang yang berada di lapangan.
“Kalau kebakaran terjadi karena kesengajaan, penegakan hukum harus mengikuti aliran tanggung jawab sampai ke atas. Jangan hanya menangkap orang yang menyalakan api, tetapi telusuri siapa yang memperoleh manfaat ekonomi dari pembakaran tersebut,”
kata dia.
Kholid juga meminta pemerintah memastikan langkah penanganan karhutla tidak tersendat oleh persoalan birokrasi. Karena semakin cepat api ditangani, semakin besar pula peluang menyelamatkan masyarakat sekaligus satwa yang berada di kawasan terdampak.
“Sekarang yang dibutuhkan adalah kecepatan, koordinasi, dan keberanian mengambil tindakan. Selamatkan warga, lindungi satwa dan hutan, serta tindak siapa pun yang terbukti bertanggung jawab. Jangan sampai penanganan tersendat oleh birokrasi,”
tutur Kholid.


























