Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 27 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • DPR
  • Sepak Bola
  • prabowo
  • Korupsi
  • MBG
  • Prabowo Subianto
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Kesehatan / Bom Waktu di Balik Pengungsian Gempa NTT: Kelompok Rentan Hadapi Ancaman Berlapis
Kesehatan

Bom Waktu di Balik Pengungsian Gempa NTT: Kelompok Rentan Hadapi Ancaman Berlapis

Syifa Fauziahowrite-adi-briantika
Last updated: Agustus 27, 2026 11:17 am
By
Syifa Fauziah
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Follow:
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
3 jam lalu
Share
Sejumlah anak bermain gawai di depan tenda pengungsian di Pota, Sambi Rampas, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (23/8/2026).
Sejumlah anak bermain gawai di depan tenda pengungsian di Pota, Sambi Rampas, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (23/8/2026). (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/kye)
SHARE

Ahli manajemen bencana dari Griffith University Dicky Budiman berpendapat jumlah pengungsi akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), berpotensi meningkatkan berbagai risiko kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, bayi, lansia, ibu hamil, ibu menyusui, perempuan, dan penyandang disabilitas.

Daftar isi Konten
  •  Ancaman Berlapis
  • Psikologis Anak
  • Ibu Hamil Juga Berisiko

 “Pengungsian massal apalagi dengan skala lebih dari 100.000 jiwa seperti di NTT saat ini, menciptakan kondisi ideal bagi crowded-associated disease outbreak, seperti ISPA, diare, penyakit kulit, dan campak,”

ujar Dicky, dikutip pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Baca juga:
Bom Waktu Pengungsian Gempa NTT: Pemerintah Jangan Gebyah Uyah Layanan… Jumlah warga yang mengungsi akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, Nusa…
Gempa NTT, TII Ingatkan Ancaman Krisis Kesehatan Ibu Hamil hingga… Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII),…
Gempa NTT Bikin Warga Mampu Jatuh Miskin, DPR Minta Kemensos… Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tak hanya meninggalkan kerusakan…
  • Bom Waktu Pengungsian Gempa NTT: Pemerintah Jangan Gebyah Uyah Layanan Kesehatan
  • Gempa NTT, TII Ingatkan Ancaman Krisis Kesehatan Ibu Hamil hingga Bayi di…
  • Gempa NTT Bikin Warga Mampu Jatuh Miskin, DPR Minta Kemensos Perluas Perlindungan…

Ancaman tersebut menjadi lebih serius karena lansia dan anak balita memiliki daya tahan tubuh yang lebih rentan. Jika terjadi infeksi, risiko mengalami kondisi berat hingga kematian pada kelompok tersebut dapat lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

Selain penyakit menular, Dicky, yang juga seorang epidemiolog, menyorot ancaman terputusnya pengobatan bagi pengungsi yang memiliki penyakit kronis. Lansia, misalnya, banyak yang membutuhkan obat rutin untuk hipertensi, diabetes, maupun penyakit jantung.

 “(Hal) yang paling sering terlewat dalam distribusi bantuan-bantuan darurat adalah obat-obatan kronis, obat-obatan untuk penyakit kronis. Jadi bukan makanan,”

kata dia.

Putusnya pengobatan dapat memicu komplikasi akut, seperti stroke dan krisis hipertensi. Risiko ini semakin besar ketika akses menuju fasilitas kesehatan dan sistem rujukan terganggu akibat kerusakan infrastruktur pascagempa.

Maka, Dicky berujar bantuan kesehatan tidak boleh diberikan dengan pendekatan yang sama kepada seluruh pengungsi. Pemerintah perlu melakukan pendataan kesehatan yang dipilah berdasarkan usia dan tingkat kerentanan sejak awal masa tanggap darurat.

 “Jangan sampai generalisasi layanan kesehatan untuk semua. Karena kalau itu terjadi berbahaya. Harus ada pemilahan data,”

tegas dia.

 Ancaman Berlapis

Dicky juga mengingatkan ada sejumlah ancaman kesehatan yang secara khusus membayangi bayi dan anak-anak di lokasi pengungsian.

Salah satunya adalah gangguan gizi akut. Bayi yang sebelumnya mendapatkan ASI eksklusif dapat menghadapi masalah ketika ibu mengalami stres dan dehidrasi sehingga produksi ASI terganggu.

Di sisi lain, pemberian susu formula secara massal juga tidak bisa dilakukan tanpa pengawasan, terutama ketika ketersediaan air bersih dan fasilitas untuk menjaga kebersihan terbatas.

 “Ini dilema klasik yang disebut dengan infant feeding in emergency yang harus ditangani lewat pojok laktasi terlindung. Jadi bukan distribusi susu formula massal tanpa pengawasan,”

jelas Dicky.

Balita juga rentan mengalami dehidrasi berat akibat diare ketika sanitasi di lokasi pengungsian buruk. Sementara bayi baru lahir dan anak di bawah dua tahun menghadapi risiko hipotermia, terutama jika berada di wilayah pegunungan dengan suhu malam yang rendah dan tenda pengungsian tidak memiliki insulasi memadai.

 “Ancaman lain adalah putusnya imunisasi dasar. Kondisi pengungsian yang berkepanjangan dapat mengganggu jadwal imunisasi dan membuka celah kemunculan kembali penyakit yang sebenarnya sudah terkendali, seperti campak dan difteri,”

terang dia.

Psikologis Anak

Tidak hanya kesehatan fisik, kondisi psikologis anak juga menjadi perhatian. Ribuan gempa susulan membuat anak-anak berpotensi mengalami paparan trauma secara berulang. 

Dicky mengatakan trauma yang berulang berbeda dengan pengalaman traumatis satu kali karena dapat menghambat proses pemulihan psikologis anak dan meningkatkan risiko gangguan stres pascatrauma dalam jangka panjang.

Intervensi psikologis sejak dini melalui psychological first aid diperlukan di lokasi pengungsian. Kerusakan sekolah juga dinilai bukan semata-mata persoalan pendidikan. Dicky menilai kehilangan sekolah berarti kehilangan salah satu struktur rutinitas yang penting bagi stabilitas emosional anak setelah bencana. 

Ibu Hamil Juga Berisiko

Ibu hamil menjadi kelompok lain yang membutuhkan perhatian khusus. Mereka tetap membutuhkan pemantauan antenatal meski berada dalam kondisi darurat.

Menurut Dicky, stres pascabencana dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan komplikasi persalinan. Pola tersebut juga ditemukan dalam studi epidemiologi pascagempa besar, termasuk Aceh pada 2004 dan Palu pada 2018.

Maka, layanan kesehatan reproduksi dan tenaga kesehatan yang dapat memantau kehamilan perlu tetap tersedia di titik-titik pengungsian besar.

“Risiko keamanan perempuan dan anak di lokasi pengungsian campuran. Posko yang padat, minim privasi, serta fasilitas sanitasi dan penerangan yang tidak memadai dapat meningkatkan kerentanan terhadap kekerasan seksual dan pelecehan,”

kata dia.
Baca juga:
Saat Bantuan Menipis di Pengungsian: Gempa NTT Buka Borok Penanganan… Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute (TII) Made Natasya Restu Dewi Pratiwi…
Sumatera Barat Kirim 2,2 Ton Rendang untuk Korban Gempa dan… Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerima dan mendistribusikan bantuan pangan berupa 2,2…
Korban Gempa NTT Membludak, 206 Relawan Dikirim ke Enam Wilayah… Tingginya kebutuhan layanan medis di wilayah terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di…
  • Saat Bantuan Menipis di Pengungsian: Gempa NTT Buka Borok Penanganan Bencana
  • Sumatera Barat Kirim 2,2 Ton Rendang untuk Korban Gempa dan Tsunami di…
  • Korban Gempa NTT Membludak, 206 Relawan Dikirim ke Enam Wilayah Terdampak Parah
Tag:BalitaDisabilitasEpidemiologgempaibu hamilNTTPengungsiPengungsian
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Budi Arie ‘Senggol’ Percepatan Pemilu, PKS: Sebaiknya Jokowi Jelaskan agar Tak Jadi Bola Liar
By Hardani Triyoga
Kepala Kantor Staf Presiden PKS, Pipin Sopian.
1
Kemenkeu Luruskan Omongan Purbaya Soal Rp7 T ke BPS, Ternyata Bukan Cuma DTSEN
By Anisa Aulia
Petugas sensus mendata meteran listrik rumah warga saat melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 di Kelurahan Maliaro, Ternate, Maluku Utara. (Sumber: Antara Foto/Andri Saputra/hma)
2
RUU Perampasan Aset Jatuh Tempo 15 Desember, Warga Pati Siapkan Aksi Tagih Janji DPR
By Rika Pangesti
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (kedua kiri) bersama Saan Mustopa (kiri) berjabat tangan dengan perwakilan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Teguh Istiyanto (kanan) dan Supriyono (kedua kanan) alias Botok saat audiensi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
3
Di Depan Warga Pati, Dasco Siap Mundur Jika RUU Perampasan Aset Gagal Disahkan di 2026
By Rika Pangesti
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menjawab pertanyaan wartawan usai rapat pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Sumber: Antara Foto/Rivan Awal Lingga/nym)
4
Penyusup Jelang Demo 27 Agustus: Menko Polkam Klaim Kantongi Peta Gerak Anarko
By Rahmat Baihaqi
Menkopolkam Djamari Chaniago didampingi Kapolda Metro Jaya Komjen Asep Edi Suheri dan Pangdam Jaya Letjen TNI Deddy Suryadi, 27 Agustus 2026, di Jakarta.
5

BERITA LAINNYA

Gambar ilustrasi kematian ibu
Kesehatan

Angka Kematian Ibu di Indonesia Timur 2,8 Kali Lebih Tinggi Dibanding Daerah Lain, Ini Pemicunya

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia Timur masih menjadi persoalan serius. Kawasan…

Syifa FauziahAmin-Suciady-Owrite
By
Syifa Fauziah
Amin Suciady
3 jam lalu
Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda darurat RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, NTT, Senin (24/8/2026).
Kesehatan

Bom Waktu Pengungsian Gempa NTT: Pemerintah Jangan Gebyah Uyah Layanan Kesehatan

Jumlah warga yang mengungsi akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, Nusa…

Syifa Fauziahowrite-adi-briantika
By
Syifa Fauziah
Adi Briantika
4 jam lalu
Pemanis jenis madu
Kesehatan

Sering Dianggap Lebih Sehat, Ternyata Tiga Pemanis Ini Tetap Bisa Bikin Gula Darah Naik

Kalau kamu pikir mengganti gula pasir atau gula putih dengan gula aren,…

Ani RatnasariIvan OWRITE
By
Ani Ratnasari
Ivan Syahruna Lubis
21 jam lalu
Foto udara kawasan Bundaran Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo yang tertutup kabut asap di Kota Palembang, Sumatera Selatan
Kesehatan

Bahaya PM2.5 di Balik Kabut Asap Karhutla bagi Kesehatan Tubuh

Kabut asap yang muncul saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya…

Ossid Duha Jussas SalmaIvan OWRITE
By
Ossid Duha Jussas Salma
Ivan Syahruna Lubis
21 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up