Jumlah warga yang mengungsi akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus meningkat. Data BNPB per 24 Agustus 2026 mencatat 180.327 jiwa masih berada di pengungsian.
Lonjakan jumlah pengungsi dinilai perlu diikuti perubahan pendekatan dalam penanganan kesehatan. Epidemiolog Dicky Budiman mengingatkan pemerintah agar tidak menerapkan pola bantuan yang mengggeneralisasi seluruh pengungsi, lantaran terdapat kelompok rentan dengan kebutuhan berbeda.
Kelompok seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, perempuan, dan penyandang disabilitas harus menjadi prioritas dalam fase tanggap darurat. Sebab, pengungsian massal dengan jumlah lebih dari 100 ribu orang dapat menciptakan kondisi yang mendukung terjadinya penularan penyakit seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, penyakit kulit, hingga campak.






