Kabut asap yang muncul saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga membawa berbagai polutan yang dapat berdampak pada kesehatan.
Salah satunya adalah PM2.5, partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Ketika konsentrasi PM2.5 di udara meningkat, masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak karhutla dapat lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.
Paparan ini perlu diwaspadai karena partikel ini dapat mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam.
Karena itu, memahami apa itu PM2.5 dan bahayanya menjadi penting, terutama ketika kabut asap karhutla mulai menyelimuti suatu wilayah. Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan RI (21 Agustus 2024), berikut penjelasannya.
Apa Itu PM2.5?
PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil, dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya bahkan jauh lebih kecil dibandingkan diameter rambut manusia. Karena sangat kecil, PM2.5 dapat melayang di udara dan terbawa angin.
Partikel ini juga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian dalam paru-paru. Yang perlu diwaspadai, PM2.5 tidak selalu terlihat. Jadi, udara yang tampak jernih belum tentu bebas dari partikel tersebut.
Bahaya PM2.5
Ketika terhirup, PM2.5 dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menyebabkan berbagai keluhan seperti batuk, tenggorokan tidak nyaman, mata perih, hingga sesak napas.
Paparan juga dapat memperburuk kondisi orang yang memiliki asma atau penyakit paru. Sementara dalam jangka panjang, paparan polusi partikulat berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan pernapasan serta penyakit jantung dan pembuluh darah.
Mengurangi Paparan PM2.5
Paparan PM2.5 saat karhutla tidak selalu dapat dihindari, tetapi risikonya bisa dikurangi dengan beberapa langkah berikut:
- Pantau kualitas udara, bukan hanya melihat apakah langit tampak berkabut.
- Kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga atau aktivitas fisik berat saat kualitas udara memburuk.
- Gunakan respirator seperti N95 jika harus beraktivitas di luar ruangan dan pastikan terpasang rapat.
- Tutup pintu dan jendela ketika asap mulai masuk ke dalam rumah.
- Gunakan air purifier dengan filter HEPA jika tersedia untuk membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.
- Siapkan ruang dengan udara lebih bersih, terutama untuk anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.
- Hindari sumber asap tambahan di dalam rumah, seperti rokok, vape, pembakaran sampah, dan dupa.
- Waspadai gejala kesehatan, seperti batuk, mata perih, mengi, atau sesak napas. Jika keluhan semakin berat, segera cari pertolongan medis.
- Cegah karhutla sejak awal dengan tidak membakar sampah atau membuka lahan menggunakan api serta segera melaporkan kebakaran yang ditemukan.
Karhutla bukan hanya membuat langit berkabut dan jarak pandang menurun. Partikel sangat kecil seperti PM2.5 juga dapat ikut masuk ke udara yang kita hirup. Karena itu, mengurangi paparan asap menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan.
Harus Waspada
Semua orang sebaiknya mengurangi paparan asap karhutla. Namun, risikonya perlu lebih diperhatikan pada anak-anak, bayi, lansia, ibu hamil, penderita asma, penyakit paru kronis, dan penyakit jantung. Pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan juga perlu lebih berhati-hati.
Paparan dapat meningkat ketika seseorang berada di lingkungan berasap dalam waktu lama atau melakukan aktivitas fisik berat. Karena itu, ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan perlindungan pernapasan.
Karhutla bukan hanya menyebabkan kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Jangan abaikan kabut asap dan bau terbakar di sekitar kita. Kenali kualitas udara, lindungi pernapasan, dan tetap hati-hati terhadap risiko karhutla.






















