Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut penanganan bencana gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) telah berhasil ditangani tidak sejalan dengan fakta di lapangan.
Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari, menilai pemerintah belum menunjukkan indikator maupun data yang jelas untuk mengukur keberhasilan tersebut, karena sejumlah warga terdampak gempa di NTT masih belum memperoleh bantuan secara memadai.
Bagi saya, sejauh ini pengamatan saya, Presiden tidak sungguh-sungguh memberikan indikator soal keberhasilan dari kebijakan-kebijakan kita,”
katanya kepada Owrite, Senin, 31 Agustus 2026.
Menurut Feri, pernyataan pemerintah mengenai penanganan bencana perlu disertai data yang dapat menunjukkan sejauh mana kebutuhan masyarakat telah terpenuhi.
Ia menyinggung pernyataan Prabowo mengenai kondisi penanganan bencana di Aceh yang disebut sudah berjalan sangat baik.
Kita ingat ya, Presiden menyampaikan bahwa apa yang terjadi di Aceh sudah sangat baik dan itu perlu disambut dan diapresiasi. Bukan kita tidak mengapresiasi, tapi data menunjukkan berbeda,”
ucapnya.
Masih Banyak Persoalan
Dikatakannya, persoalan serupa juga terlihat dalam penanganan gempa di NTT. Kondisi di lapangan menunjukkan masih terdapat persoalan dalam penyaluran bantuan, termasuk bantuan yang dinilai tidak selalu sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
Begitu juga saya dan banyak pihak merasakan bahwa gempa di NTT belum tuntas, belum maksimal. Kita tahu penyaluran bantuan sangat tidak tepat sasaran, menumpuk di sana-sini, dan bukanlah sesuatu yang kadang-kadang dibutuhkan oleh masyarakat,”
jelasnya.
Lebih jauh dia meminta Presiden dan jajaran pemerintah tidak melihat kritik terhadap penanganan bencana sebagai bentuk serangan politik.
Menurutnya, kritik tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi agar kebutuhan korban benar-benar dapat dipenuhi.
Pak Presiden, Pak Teddy, dan yang lain perlu pahami bahwa pernyataan ini bukan berarti hendak menyudutkan Anda. Tapi kami berharap Bapak bisa bekerja lebih maksimal dan memastikan kebutuhan masyarakat betul-betul terpenuhi,”
terangnya.
Dikatakan Feri, keberhasilan di satu wilayah tidak bisa dijadikan alasan untuk menyimpulkan seluruh penanganan bencana telah selesai. Pemerintah tetap harus memperhatikan daerah dan kelompok masyarakat yang belum memperoleh penanganan optimal.
Jadi jangan kemudian dialihkan, ini hendak menyudutkan karena sudah ada yang berhasil. Mungkin sudah ada yang berhasil, tapi masih banyak yang belum berhasil, yang perlu Bapak tangani,”
paparnya.
Ia pun mempertanyakan jarak antara klaim pemerintah dengan kondisi yang masih terjadi di lapangan. Presiden seharusnya memastikan terlebih dahulu kondisi masyarakat secara menyeluruh sebelum menyampaikan klaim keberhasilan penanganan bencana.
Nah, di titik itu kita mempertanyakan, Pak Presiden terlalu cepat berpidato untuk menyatakan segala sesuatu berhasil, tapi di lapangan tidak diketahui oleh Presiden,”
pungkasnya.























