Pernah ikut tren manifesting di media sosial sambil mendengarkan lagu Dua Lipa? Mulai dari berharap dapat jodoh, rezeki, sampai karier impian, banyak orang coba memvisualisasikan apa yang mereka inginkan seolah hal tersebut sedang menuju kehidupan mereka.
Tren ini cukup dekat dengan Gen Z. Ada yang membuat vision board, menuliskan afirmasi, atau membayangkan kehidupan yang ingin dicapai. Di balik tren itu, muncul satu pertanyaan: benarkah apa yang kita pikirkan bisa menjadi kenyataan?
Coba lihat di sekitar kita. Mungkin kamu punya teman yang terlihat santai menghadapi berbagai hal. Berangkat ke kampus hampir terlambat, belum memesan ojek, tetapi entah bagaimana tetap tiba tepat waktu.
Di sisi lain, kamu mungkin sudah menyusun rencana dari A sampai Z. Jadwal sudah dibuat, berbagai kemungkinan sudah dipikirkan. Namun, tetap saja muncul rasa khawatir ketika hasilnya tidak berjalan sesuai ekspektasi.
Perbedaan cara menghadapi kehidupan seperti ini kerap dikaitkan dengan Law of Attraction (LoA) atau hukum ketertarikan.
Secara sederhana, LoA merupakan filosofi like attracts like, yakni keyakinan bahwa pikiran, perasaan, dan energi yang kita pancarkan dapat menarik pengalaman yang serupa ke dalam kehidupan
Konsep ini kemudian populer di media sosial lewat manifesting, mulai dari menulis afirmasi, membayangkan pasangan ideal, hingga membuat vision board berisi target hidup.
Misalnya kamu ingin punya pasangan yang sehat secara emosional. Kamu mulai membayangkan hubungan tersebut, lalu secara bersamaan belajar membuat boundaries, berhenti mengejar orang yang unclear, dan lebih terbuka bertemu orang baru.
Ketika akhirnya menemukan pasangan yang sesuai, muncullah perasaan, “Tuh kan, manifesting-ku berhasil!”
Hal serupa bisa terjadi soal rezeki. Kamu bayangkan pekerjaan impian, lalu mulai semangat memperbaiki CV, belajar skill baru, memperluas koneksi, dan aktif mencari lowongan.
Menurut American Psychological Association (APA), menetapkan tujuan yang jelas dapat membantu mengarahkan perilaku, mengatur usaha, serta meningkatkan kegigihan untuk mencapai target.
Artinya, bisa jadi bukan semesta yang tiba-tiba mengirim jodoh atau uang, tetapi fokus pada tujuan lah yang membuat seseorang lebih aktif melihat peluang dan mengambil tindakan.
Benarkah LoA Efektif?
Belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa pikiran seseorang secara langsung dapat membuat semesta mengirimkan jodoh atau rezeki.
Penelitian Dixon, Hornsey, dan Hartley dalam Personality and Social Psychology Bulletin terhadap 1.023 peserta menemukan lebih dari sepertiga responden mendukung keyakinan manifestasi.
Mereka yang lebih percaya manifesting juga cenderung merasa lebih sukses dan memiliki ekspektasi keberhasilan lebih tinggi.
Namun, penelitian tersebut juga menemukan kaitan antara keyakinan manifestasi dengan kecenderungan mengambil risiko finansial dan pengalaman kebangkrutan.
Jadi, manifesting boleh. Namun, jangan sampai membuatmu percaya semua hal pasti terjadi hanya karena sudah divisualisasikan.
Jadi, Bolehkah Delulu?
Jawabannya adalah boleh banget. Kamu boleh banget bikin vision board, tulis afirmasi, dan bayangkan kehidupan yang kamu inginkan. Tapi setelah itu, tetap action.
Manifesting jodoh? Buka diri, kenali orang baru, dan belajar membangun hubungan sehat.
Manifesting rezeki? Cari peluang, tingkatkan kemampuan, dan berani mencoba.
Manifesting karier impian? Upgrade skill, kirim lamaran, bangun koneksi.
Karena pada akhirnya, vision board secantik apa pun nggak akan mengirim CV untukmu. Afirmasi sebanyak apa pun nggak akan datang ke ruang interview menggantikanmu. Pun, jodoh mungkin nggak akan tiba-tiba muncul cuma karena fotonya kamu tempel di Pinterest.
Jadi, delulu boleh, manifesting boleh, percaya semesta juga boleh. Tapi, kaki tetap harus jalan.
Sebab, kalau ada satu hal yang bisa kamu kontrol dari semua wishlist kehidupanmu, itu adalah langkah yang kamu ambil untuk mendekatinya.
























