Nama anggota DPD RI asal Bali, Arya Wedakarna, tengah ramai dibicarakan warganet. Bukan karena pernyataan politiknya, melainkan lantaran kehadirannya dalam ajang Miss Equality World 2026 di Bangkok, Thailand.
Pasalnya, Miss Equality World yang berlangsung pada 22–30 Agustus 2026 itu merupakan kompetisi yang mengusung isu kesetaraan, keberagaman, inklusi, serta pemberdayaan perempuan transgender.
Apalagi Arya merupakan anggota DPD RI yang mewakili Bali. Alhasil, publik mempertanyakan konteks kehadirannya dalam acara tersebut, apakah ia datang membawa kapasitas sebagai senator atau sebagai tokoh Bali.
Salah satu yang mempertanyakan kehadiran Arya dalam acara tersebut adalah influencer dan pembuat konten, Bobon Santoso.
Lewat akun Instagram-nya, @bobonsantoso, Bobon mempertanyakan urgensi seorang anggota DPD RI yang hadir dalam Miss Equality World 2026.
Kepentingan Masyarakat
Bobon menyinggung posisi Arya sebagai wakil Bali dan mempertanyakan apakah kehadiran tersebut berkaitan dengan kepentingan masyarakat yang diwakilinya.
Pak Arya, ini prioritas wakil Bali?”
tulis Bobon.
Menurut Bobon, masih banyak persoalan dan aspirasi masyarakat Bali yang perlu diperhatikan.
Bali memiliki begitu banyak persoalan dan aspirasi masyarakat yang menunggu diperjuangkan. Namun yang terlihat justru kehadiran di panggung internasional seperti Miss Equality World,”
lanjut Bobon.
Unggahan tersebut kemudian ramai dibanjiri komentar. Dalam waktu kurang dari 24 jam, unggahan Bobon disebut telah mengumpulkan sekitar 197 ribu likes, 24,8 ribu komentar, dan 35,3 ribu shares.
Bobon tak hanya menyoroti kehadiran Arya saja, dalam unggahannya ia juga mempertanyakan sosok berseragam TNI AL yang terlihat berada di dekat Arya dalam sejumlah dokumentasi kegiatan di Bangkok.
Bobon kemudian mempertanyakan apakah prajurit tersebut berada di sana untuk menjalankan tugas pengamanan, mendampingi Arya, atau dalam kapasitas lainnya.
Dalam unggahannya, Bobon juga membawa Perpres Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029.
Bobon menyoroti ketentuan dalam perpres tersebut yang mencantumkan penyebaran budaya LGBTQ sebagai salah satu ancaman nonmiliter dalam dimensi sosial dan budaya.
Sosial dan Budaya
Ia kemudian mempertanyakan kehadiran pejabat negara dalam kegiatan yang mengangkat isu transgender dan keberagaman.
Kalau negara saja memasukkannya dalam kerangka ancaman nonmiliter, lalu mengapa seorang pejabat negara justru memilih hadir dan bahkan menerima penghargaan?”
tulis Bobon.
Di tengah ramainya sorotan yang tertuju padanya, Arya sebelumnya telah memberikan penjelasan melalui akun Instagram pribadinya, @aryawedakarna, pada 31 Agustus lalu.
Arya menyebut kehadirannya di Bangkok berkaitan dengan promosi pariwisata Bali. Dalam unggahannya, Arya mengatakan dirinya menerima penghargaan Star Light dari MS Organization.
Ia menyebut penghargaan tersebut diberikan dalam rangka mendukung upaya menjadikan Bali sebagai destinasi pariwisata utama dunia. Arya juga menyebut kegiatan itu dihadiri perwakilan dari 15 negara.
Selain menerima penghargaan, acara tersebut juga diisi dengan peluncuran video wisata Bali Barat yang diputar di MGI Convention Center.
Dalam unggahannya, Arya menyebut dirinya sebagai tokoh Bali, Penasihat Duta Wisata Indonesia, sekaligus Presiden The Hindu Center of Indonesia.
Arya juga menegaskan dirinya tidak menghadiri kegiatan tersebut dalam kapasitas sebagai anggota DPD RI. Ia mengatakan undangan yang diterimanya berkaitan dengan perannya sebagai tokoh Hindu dan pariwisata Bali.
Sementara itu, Miss Equality World merupakan ajang internasional yang berfokus pada perempuan transgender, kesetaraan, keberagaman, inklusi, dan isu kemanusiaan.






















