Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) menghadapi tantangan berat dalam upaya meraih dukungan suara untuk menjadi Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) periode 2027–2032.
Sejumlah kandidat dinilai memiliki keunggulan struktural karena telah lama berada di dalam birokrasi WHO dan memiliki jaringan dengan negara-negara anggota.
Pakar kesehatan global Dicky Budiman menilai kandidat terkuat saat ini adalah Hanan Balkhy dari Arab Saudi. Balkhy merupakan dokter spesialis anak dan saat ini menjabat sebagai Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur.
Sebelumnya, ia juga pernah menjabat sebagai Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Antimicrobial Resistance di markas WHO di Jenewa.
Kalau diranking, dia nomor satu. Dengan kredibilitas teknis penuh, dia dokter, karier panjang juga di birokrasi WHO, dengan jaringan internal organisasi yang sangat kuat,”
kata Dicky.
Menurut Dicky, posisi Balkhy semakin kuat karena memiliki pengalaman teknis sekaligus jejaring kelembagaan di WHO.
Ia bahkan menyebut pencalonan Balkhy dinilai sebagai langkah diplomasi strategis karena latar belakangnya yang lahir di Amerika Serikat.
Kalahlah BGS dari sisi legitimasi teknis dan birokrasi,”
ujarnya.
Dicky menempatkan Hans Kluge dari Belgia sebagai kandidat kuat berikutnya. Kluge telah menjabat sebagai Direktur Regional WHO untuk Eropa sejak 2020 dan memiliki pengalaman memimpin kawasan tersebut menghadapi pandemi COVID-19, wabah Mpox, hingga dampak kesehatan akibat perang Rusia-Ukraina.
Menangani Krisis Multilateral
Kluge, kata Dicky, memiliki keunggulan berupa pengalaman menangani krisis multilateral secara langsung di dalam WHO serta dukungan dari blok Eropa yang secara historis memiliki posisi kuat dalam pemungutan suara World Health Assembly (WHA).
Sementara itu, kandidat lainnya, Hanan Al-Kuwari dari Qatar, dinilai memiliki posisi yang relatif sebanding dengan BGS. Keduanya sama-sama bukan birokrat karier WHO dan lebih mengandalkan rekam jejak kepemimpinan di tingkat domestik.
Hanan Al-Kuwari ini menurut saya paling mirip-mirip BGS, sama-sama mantan Menteri Kesehatan, bukan birokrat WHO karier. Kekuatannya lebih ke dukungan finansial diplomatik Teluk dan posisi Qatar sebagai penghubung Timur Tengah dan Barat,”
kata Dicky.
Dicky menilai keunggulan Balkhy dan Kluge menjadi tantangan tersendiri bagi BGS karena keduanya telah menduduki posisi tinggi di WHO. Kondisi tersebut membuat mereka memiliki jaringan yang lebih kuat dengan anggota Executive Board maupun delegasi WHA.
Kalau saya simpulkan, Balkhy yang dari Saudi dan Kluge dari Belgia punya keunggulan struktural yang sulit ditandingi BGS, karena keduanya itu adalah dokter dan sudah menjabat sebagai pejabat tinggi WHO di level Regional Director,”
ujarnya.
Menurut Dicky, posisi Indonesia yang tidak memiliki kursi di Executive Board pada periode nominasi ini juga menjadi tantangan bagi BGS dalam membangun koalisi dukungan.
Realistisnya BGS menghadapi tantangan yang lebih berat dalam membangun koalisi suara. Kekuatan utamanya harus datang dari narasi Selatan Global dan skala keberhasilan program domestik, bukan dari jaringan kelembagaan WHO,”
tambah Dicky.



















