Peta elektabilitas menuju Pilpres 2029 kembali menjadi sorotan setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM tercatat mengungguli Presiden Prabowo Subianto dalam survei Tempo Data Science.
Peneliti SMRC, Saidiman Ahmad, menilai temuan yang lebih mengejutkan justru bukan sekadar besarnya selisih elektabilitas, melainkan kemampuan KDM menarik dukungan dari pemilih yang puas maupun tidak puas terhadap kondisi pemerintahan.
Selain tentang elektabilitas KDM yang jauh melampaui Prabowo, temuan lebih detail survei Tempo Data Science ini juga lebih menarik,”
kata Saidiman yang dikutip dari akun X pribadinya @saidiman, Jumat, 4 September 2026.
Menurutnya, kemenangan elektoral KDM tidak hanya bersumber dari kelompok masyarakat yang kecewa terhadap kondisi politik dan ekonomi.
Ada faktor yang lebih serius karena dukungan terhadap KDM juga muncul dari kelompok yang menyatakan puas.
Ternyata KDM tidak hanya mengambil suara lebih banyak dari pemilih yang tidak puas dengan kondisi ekonomi, politik,”
ucapnya.
Lebih jauh dia menyebut ketidakpuasan publik juga berkaitan dengan sejumlah persoalan lain, mulai dari penegakan hukum hingga arah pembangunan bangsa.
Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) turut menjadi bagian dari penilaian masyarakat.
Kondisi penegakan hukum, arah bangsa, serta pelaksanaan program MBG dan KDMP juga,”
jelasnya.
Yang paling menarik, kata Saidiman, dukungan terhadap KDM ternyata tidak berhenti pada kelompok yang kecewa. Pemilih yang menyatakan puas terhadap kondisi tersebut pun disebut lebih banyak memilih KDM dibandingkan Prabowo.
Mereka yang puas sekali pun juga lebih banyak memilih KDM dibanding Prabowo. Prabowo kehilangan legitimasi,”
tegasnya.
Temuan tersebut menjadi penting karena survei Tempo Data Science menunjukkan Dedi Mulyadi berada di posisi teratas dalam pertanyaan terbuka dengan 41 persen, sedangkan Prabowo berada di angka 15 persen.
Survei dilakukan terhadap 1.260 responden di 38 provinsi pada 31 Juli-11 Agustus 2026 dengan metode multistage random sampling dan margin of error sekitar 2,9 persen.



















