Data BPS menunjukkan ekonomi pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29% secara tahunan, sementara pertumbuhan semester I-2026 mencapai 5,45%,”
ucapnya.
Dikatakannya, capaian tersebut menunjukkan perekonomian Indonesia masih mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ketika perekonomian global menghadapi berbagai ketidakpastian.
Abubakar melanjutkan, kemampuan menjaga pertumbuhan menjadi salah satu catatan positif dalam evaluasi dua tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran.
Ini menunjukkan bahwa pemerintah berhasil menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global,”
jelasnya.
Lebih jauh dia menilai, stabilitas ekonomi juga terlihat dari sejumlah indikator makro lainnya. Salah satunya inflasi yang pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan tekanan harga masih berada dalam kondisi yang relatif terkendali.
Dari sisi stabilitas makro, performanya juga cukup baik. Inflasi Agustus 2026 berada di 3,19%, masih relatif terkendali,”
ungkapnya.
Selain inflasi, kondisi ketenagakerjaan juga menunjukkan perkembangan positif. BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen, turun 0,08 poin persentase dibandingkan Februari 2025.
Jumlah penduduk bekerja juga meningkat sekitar 1,896 juta orang menjadi 147,67 juta orang. Sementara itu, Abubakar menilai capaian tersebut tetap perlu dibaca secara proporsional.
Pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro menjadi modal penting, tetapi pemerintahan Prabowo-Gibran masih menghadapi tantangan untuk mendorong pertumbuhan yang lebih kuat secara struktural.
Karena itu, evaluasi dua tahun pemerintahan tidak cukup hanya melihat apakah ekonomi tumbuh atau tidak. Pemerintah juga perlu memastikan pertumbuhan tersebut semakin mampu diterjemahkan menjadi peningkatan kesempatan kerja, daya beli, dan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.