Keluarga korban kekerasan di Pejompongan, Jakarta Pusat, mendesak polisi segera menangkap dan mengembangkan penyelidikan terhadap terduga pelaku penganiayaan yang menewaskan Bambang Setiawan dan melukai Faturrohman.
Desakan itu disampaikan Juru Bicara Keluarga Faturrohman, Ahmad Fahmi, setelah polisi merilis sketsa wajah dua terduga pelaku dalam kasus pengeroyokan Fatur saat kericuhan 27 Agustus 2026.
“Jadi biarlah itu yang menganalisis para saksi yang ada dan tugas dari kepolisian. Saya rasa kasus ini sedikit menurunkan tensi politik di negeri ini,”
kata Ahmad Fahmi dalam siniar Bang Ex Napi setelah mendapat izin kutip, Minggu, 6 September 2026.
Ahmad menilai pemerintah sebenarnya dapat memulihkan kepercayaan masyarakat apabila kasus kekerasan terhadap warga sipil tersebut diusut secara serius. Pengungkapan identitas pelaku dan proses hukum yang transparan menjadi bagian penting untuk menjawab keresahan publik.
“Sebenarnya gampang kalau memang pemerintah ingin elektabilitas dan kepercayaan masyarakat kembali naik, maka tidak hanya dalam batasan sketsa orang-orang yang tidak dikenal itu,”
ucap dia.
Enggan Spekulasi
Pihak keluarga tidak ingin berspekulasi mengenai identitas kelompok yang berada di balik penganiayaan. Berbagai dugaan mengenai keterlibatan ormas, kata dia, sebaiknya diserahkan kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk mengungkap fakta.
“Mau para ahli berasumsi, para tokoh berasumsi ini ormas ini, ormas ini, silakan. Saya dari dua keluarga, baik keluarga Fatur maupun keluarga almarhum Mas Bambang Setiawan, terserah. Itu sudah ada ahli masing-masing,”
jelas Ahmad.
“Bagi kami yang menjadi sorotan nasional, bahkan internasional, saya sudah cukup bergembira dengan perilisan sketsa. Mohon (pengusutan perkara) tidak berhenti sampai dua sketsa ini, tangkap mereka,”
lanjut dia.
Maka Ahmad mendesak polisi tidak berhenti pada identifikasi melalui sketsa. Terlebih, informasi yang beredar menunjukkan jumlah pelaku diduga lebih dari dua orang.
“Segera ditangkap dan dikembangkan. Karena (informasi) yang beredar di media sosial, pelaku lebih dari dua orang,”
pinta dia.
Korban
Bambang Setiawan, seorang pedagang cermin, meninggal dunia setelah dikeroyok dalam kericuhan di kawasan Pejompongan pada 27 Agustus 2026. Polda Metro Jaya pun telah menyusun dua sketsa wajah terduga pelaku berdasarkan keterangan 14 saksi, rekaman CCTV, dan analisis digital.
Polisi menyatakan kedua terduga pelaku masih dalam pengejaran dan penyelidikan terus dikembangkan untuk mengungkap pihak lain yang mungkin terlibat. Polisi belum menemukan indikasi terduga pelaku merupakan anggota komunitas atau kelompok tertentu. Maka, dugaan keterlibatan ormas belum dapat dipastikan dan masih menjadi bagian dari pengusutan perkara.
Sementara itu, Faturrohman, pelajar berusia 18 tahun, juga mengaku mengalami kekerasan saat kericuhan. Ia mengaku ditarik dari gang dekat rumahnya, dipukuli, lalu dibawa ke kawasan DPR/MPR. Polisi memberikan versi berbeda dengan menyatakan Faturrohman diamankan karena berada di tengah kerumunan saat kerusuhan dan prosesnya masih didalami.

























