Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas vulkanik tinggi karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Kondisi tersebut membuat gunung api di Tanah Air terus menunjukkan aktivitas, termasuk erupsi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Memasuki September 2026, ada tujuh gunung api mengalami erupsi dalam periode pemantauan PVMBG dan Badan Geologi Kementrian ESDM sejak Agustus hingga awal September. Melansir dari laman Explore Indonesia, Minggu, 6 September 2026, berikut rangkuman daftar gunung api yang “batuk-batuk”.
1. Gunung Sinabung (Sumatra Utara)
Lokasi berada di Kabupate Karo, Sumatera Utara, Sinabung menjadi salah satu gunung api yang tercatat mengalami erupsi dalam periode pemantauan 1 Agustus hingga 5 September 2026.
Pada 1 September 2026, Gunung Sinabung dilaporkan mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 3.500 meter. Pada tanggal yang sama, status aktivitas Gunung Sinabung juga disebut mengalami kenaikan menjadi Level III atau Siaga.
2. Gunung Anak Krakatau (Banten)
Gunung Anak Krakatau berada di kawasan Selat Sunda, di antara wilayah Lampung dan Banten. Gunung api ini masih menunjukkan aktivitas erupsi hingga September 2026 dan statusnya berada pada Level III atau Siaga.
Pada Jumat, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara dentuman dan gemuruh. Fenomena tersebut berlangsung hingga 5 September dan disebut berkaitan dengan pancaran lava atau lava fountain.
Dampak aktivitas Anak Krakatau juga terpantau hingga wilayah yang jauh dari gunung. Pada Minggu, 6 September, BMKG mendeteksi sebaran abu vulkanik yang meliputi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Di Jakarta, abu diperkirakan turun dengan intensitas tipis.
3. Gunung Semeru (Jawa Timur)
Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini termasuk salah satu gunung api yang mengalami erupsi berulang selama periode pemantauan. Pada 1–5 Agustus 2026, Semeru tercatat sudah mengalami beberapa kali erupsi. Aktivitas kembali terlihat pada 13 Agustus ketika terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu lebih dari 900 meter.
4. Gunung Ili Lewotolok (NTT)
Aktivitas Ili Lewotolok dilaporkan meningkat pada 16–19 Agustus 2026. Pada 18 Agustus, lava keluar dari kawah dan mengalir hingga sekitar 1,2 kilometer di sisi selatan gunung. Saat itu, status aktivitas gunung berada pada Level II atau Waspada.
Aktivitas kembali meningkat pada 4 September 2026. Dalam periode pengamatan 00.00–24.00 WITA, Gunung Ili Lewotolok tercatat mengalami 378 kali letusan dengan tinggi kolom abu sekitar 200–600 meter. Aktivitas tersebut juga disertai aliran lava baru sejauh sekitar 500 meter dari bibir kawah.
Pada Minggu, 6 September 2026, Gunung Ili Lewotolok kembali mengalami erupsi pada pukul 06.11 WITA. Erupsi tersebut menghasilkan kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal setinggi sekitar 400 meter di atas puncak dan bergerak ke arah barat.
5. Gunung Lewotobi Laki-Laki (NTT)
Pada 1–5 Agustus 2026, Lewotobi Laki-laki tercatat mengalami erupsi. Aktivitas kembali terjadi pada 27 Agustus, dengan tinggi kolom erupsi sekitar 2.500 meter. Aktivitas tersebut menjadi salah satu perkembangan vulkanik yang perlu diperhatikan di wilayah Nusa Tenggara Timur.
6. Gunung Ibu (Maluku Utara)
Gunung Ibu berada di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Pada 1–5 Agustus, Gunung Ibu sudah mengalami beberapa kali erupsi. Kemudian pada 1 September 2026, gunung tersebut kembali mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter.
Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 28 milimeter dan berlangsung selama sekitar 54 detik. Hingga pembaruan tersebut, status Gunung Ibu berada pada Level II atau Waspada. Masyarakat dan wisatawan diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.
7. Gunung Dukono (Maluku Utara)
Gunung Dukono berada di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Bersama Gunung Semeru, Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Ili Lewotolok, Dukono telah mengalami erupsi berulang pada periode 1–5 Agustus 2026.
Tetap Pantau
Aktivitas vulkanik dapat berubah dari waktu ke waktu. Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api maupun wisatawan perlu mengikuti informasi dan rekomendasi terbaru dari PVMBG serta Badan Geologi ESDM.
Selain memperhatikan perubahan status gunung, masyarakat juga perlu mengetahui radius bahaya dan wilayah yang harus dihindari apabila terjadi peningkatan aktivitas. Informasi resmi penting untuk membantu masyarakat mengambil langkah mitigasi dan menjaga keselamatan.






















