Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dengan intensitas tinggi. Erupsi menerus mulai terjadi pada 4 September 2026, pukul 23.07 WIB, setelah gunung api tersebut berada dalam status Siaga (Level III) sejak 2 Juli 2026. Aktivitas erupsi menghasilkan abu vulkanik yang kemudian terbawa angin dan menyebar ke sejumlah wilayah.
Pada Minggu, 6 September, abu vulkanik terdeteksi di sekitar Bandara Soekarno-Hatta dan menyebabkan operasional penerbangan sempat dihentikan. Kondisi ini membuat masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu lebih waspada saat beraktivitas.
Paparan abu vulkanik sebaiknya tidak dianggap sepele karena partikelnya dapat terhirup dan mengganggu saluran pernapasan. Dokter Tirta melalui unggahan di akun TikTok-nya membagikan sejumlah tips bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik.
Tips Aman Saat Abu Vulkanik Menyebar
Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau membuat masyarakat di wilayah terdampak perlu lebih waspada saat beraktivitas. Abu vulkanik dapat berukuran sangat halus sehingga mudah terbawa angin dan masuk ke saluran pernapasan maupun menempel pada kulit.
Lewat unggahan, Dokter Tirta membagikan tips aman selama abu vulkanik menyebar, dan ia juga membagikan pengalamannya ketika pernah terdampak abu dari erupsi Gunung Kelud dan Gunung Merapi.
Berikut beberapa langkah yang disarankan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik:
1. Gunakan Masker
Meskipun abu yang terlihat cukup tipis, masyarakat tetap disarankan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Abu vulkanik yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menimbulkan keluhan seperti batuk atau rasa tidak nyaman saat bernapas.
2. Jangan Menyapu Abu Vulkanik
Abu vulkanik yang menempel di halaman atau permukaan rumah sebaiknya tidak langsung disapu dalam keadaan kering. Gerakan menyapu dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan meningkatkan kemungkinan terhirup. Sebagai gantinya, abu dapat dibasahi terlebih dahulu menggunakan air agar tidak mudah beterbangan saat dibersihkan.
3. Jangan Langsung Menggosok Wajah yang Terkena Abu
Abu vulkanik juga dapat menempel pada kulit, termasuk wajah. Jika wajah terkena abu, hindari langsung menggosoknya karena partikel yang menempel dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Dokter Tirta menyarankan bilas wajah secara perlahan untuk mengangkat partikel abu tanpa memberi gesekan.
4. Tunda Olahraga Ruang Luar
Bagi masyarakat yang rutin berolahraga di luar ruangan, aktivitas tersebut sebaiknya dialihkan sementara ke dalam ruangan selama kondisi udara masih dipengaruhi sebaran abu vulkanik.
Olahraga membuat seseorang bernapas lebih cepat dan lebih dalam. Kondisi tersebut berpotensi membuat jumlah udara yang masuk ke saluran pernapasan meningkat. Karena itu, memilih olahraga dalam ruangan untuk sementara dapat membantu mengurangi paparan abu vulkanik.
Tetap Waspada
Jika paparan abu semakin pekat atau menimbulkan keluhan pada saluran pernapasan, segera mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mencari pertolongan medis bila gejala tidak membaik.
Masyarakat juga perlu mengikuti informasi dan imbauan terbaru dari pihak berwenang selama aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Tetap waspada selama berkegiatan.























