Harga minyak dunia kembali naik pada perdagangan Selasa, mencatat kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut dan bertahan di level tertinggi dalam enam pekan. Hal ini didorong oleh kekhawatiran terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan pada akhir pekan lalu.
Dilansir dari CNBC pada Selasa, 8 September 2026, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman November naik 0,20 persen menjadi US$97,20 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak pengiriman Oktober naik 1,07 persen menjadi US$92,56 per barel.
Militer AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu, setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke dua kapal perang Angkatan Laut AS. Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataan pada Sabtu, mengecam serangan terhadap kapal-kapal komersial tersebut sebagai kejahatan perang dan tindakan perang ekonomi.
“Tampaknya ini merupakan eskalasi besar dan ketegangan kembali meningkat,”
kata analis pasar senior di Trade Nation David Morrison.
Ia mencatat bahwa Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kesepakatan dengan Iran untuk mencegah negara tersebut memperoleh senjata nuklir mungkin sulit dicapai.
Harga Gas Ikut Naik
Serangan balasan antara kedua negara pada akhir pekan juga turut mendorong harga gas lebih tinggi hingga mencapai rekor tertinggi.
“Serang aset kami dan Anda akan diserang,”
tulis Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam unggahan di X pada Senin.
Pernyataan itu merupakan tanggapan atas unggahan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang menulis bahwa AS akan menghancurkan dan menenggelamkan kapal tanker minyak Iran, jika Teheran menembaki kapal-kapal AS.
Proyeksi Harga Minyak Naik
Pada Senin, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Brent dan WTI masing-masing sebesar US$5 menjadi US$85 dan US$80 per barel untuk Desember 2026, serta menjadi US$80 dan US$75 per barel untuk tahun 2027.
Bank tersebut memperkirakan gangguan pengiriman di Timur Tengah akan berlanjut hingga 2027, dengan produksi yang secara bertahap pulih pada paruh kedua 2027.
“Pasar semakin memperhitungkan konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah,”
kata Goldman.
Bank itu juga menambahkan bahwa tarif pengiriman minyak mentah dari Teluk Persia ke China pada kuartal II-2027, kini mencerminkan kemungkinan gangguan pengiriman yang berlangsung hingga periode tersebut.
Presiden Trump dalam sebuah postingan pada hari Senin di Amerika Serikat menyatakan bahwa “Harga minyak akan turun drastis, ketika kami menang dalam perang melawan Iran.”

























