Buku ‘Islam Ala Prabowo’ kembali jadi sorotan netizen. Kali ini perhatian netizen tidak hanya tertuju pada judul maupun isinya, melainkan karena muncul sejumlah tokoh yang namanya tercantum dalam daftar isi justru mengaku tidak pernah mengirim tulisan untuk buku tersebut.
Polemik ini ramai setelah akun Instagram @peopletoday.co mengunggah daftar isi buku Islam Ala Prabowo. Dalam waktu kurang dari 24 jam, unggahan tersebut telah meraih 56,9 ribu likes, 4,7 ribu komentar, 11,2 ribu posting ulang, dan 21 ribu share.
Dalam daftar isi yang beredar, buku tersebut memuat sejumlah tulisan yang membahas sosok Prabowo Subianto dari berbagai sudut pandang, mulai dari kepemimpinan, spiritualitas, Islam, kesejahteraan rakyat hingga hubungan dengan pesantren.
Pada bagian prolog misalnya, tercantum tulisan Ahmad Muzani berjudul Islam Ala Prabowo: Integrasi Spiritualitas dan Visi Pembaharuan untuk Indonesia Raya.
Sementara itu, terdapat sejumlah nama tokoh lain yang dicantumkan pada judul bab masing-masing.
Di antaranya Prof. Yusril Ihza Mahendra, KH Noor Achmad, AM Hendropriyono, As’ad Said Ali, Muhadjir Effendy, KH Said Aqil Siradj, TGB Muhammad Zainul Majdi, Abdul Mu’ti hingga Muhammad Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar.
Unggahan @peopletoday.co menyebut buku tersebut merupakan antologi yang diinisiasi dalam sebuah kegiatan BAZNAS pada 2025, dan bukan buku autobiografi ataupun memoar yang ditulis langsung oleh Prabowo Subianto.
Bantah Berjamaah
Namun, justru pencantuman sejumlah nama tokoh inilah yang kemudian memicu pertanyaan. Salah satu tokoh yang memberikan klarifikasi adalah TGB Muhammad Zainul Majdi.
Dalam daftar isi, nama TGB tercantum sebagai penulis tulisan Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan.
Namun, melalui Instagram Story akun @tuangurubajang, TGB membantah pernah mengirim tulisan untuk buku tersebut.
Saya tidak pernah kirim tulisan,”
tulis TGB.
Pernyataan singkat itu kemudian ramai diperbincangkan, karena nama TGB terlihat secara eksplisit dalam daftar isi sebagai penulis.
Tak hanya itu, klarifikasi lainnya juga datang dari Ning Jazil, istri Gus Kautsar.
Nama Gus Kautsar tercantum dalam buku tersebut pada tulisan berjudul Dukungan Pesantren untuk Presiden Prabowo Subianto.
Namun, Ning Jazil mempertanyakan bagaimana nama suaminya bisa masuk ke dalam buku tersebut.
Kok bisa-bisanya ada nama suami saya di buku ini..?!! Hei Penulis, minimal izin/pamit dulu kalau mau nyantumin nama,”
tulisnya melalui Instagram Story @zil_hb.
Ia kemudian menjelaskan, bahwa dirinya mengingat pernah ada seseorang yang datang ke rumah bersama anak dan istrinya. Saat itu, Gus Kautsar disebut hanya menyampaikan harapan dan doa terhadap pemimpin Indonesia.
Menurut Ning Jazil, pihaknya tidak mengetahui bahwa percakapan tersebut nantinya akan digunakan sebagai bagian dari buku.
Ia juga menilai, jika sebuah wawancara memang ditujukan untuk bahan buku, seharusnya hal tersebut disampaikan sejak awal. Terlebih, buku yang dimaksud membawa tema politik dan mencantumkan nama Gus Kautsar sebagai penulis sebuah subab.
Bukan hanya TGB dan Gus Kautsar, nama KH Said Aqil Siradj juga ikut menjadi sorotan.
Dalam daftar isi, terdapat tulisan Berislam Nusantara Ala Prabowo Subianto yang mencantumkan nama KH Said Aqil Siradj.
Di media sosial juga beredar tangkapan layar percakapan yang disebut berasal dari KH Said Aqil Siradj. Dalam percakapan tersebut, ia disebut mengaku tidak mengetahui pencantuman namanya dalam buku.
Tdk benar saya tdk tau menau saya pun kaget,”
demikian isi pesan yang beredar.
Polemik buku Islam Ala Prabowo tak berhenti pada klarifikasi sejumlah tokoh. Unggahan yang membahas buku tersebut juga langsung dibanjiri komentar warganet yang ikut mempertanyakan isi hingga proses penyusunannya.
Dicibir Netizen
Sebagian netizen bahkan mengaku sudah merasa janggal sejak melihat judul buku tersebut.
Buku yang dari judulnya aja udah aneh,”
tulis @tauhidpribadi.
Tak hanya itu, ada pula warganet yang menyoroti nama Ahmad Muzani yang tercantum sebagai penulis prolog dalam buku tersebut dan mengaitkannya dengan posisi politik Ahmad Muzani.
Inisiator buku itu adalah ketua MPR Ahmad Muzani dari Gerindra.. tau lah ya tujuannya apa..”
komentar @much.sholichien.
Komentar lain bahkan muncul dengan nada lebih keras. Warganet tersebut menyinggung polemik pencantuman nama sejumlah tokoh yang belakangan memberikan klarifikasi.
Makin menyala DOSA lo woookkk dan antek2nya,”
tulis @tryyy_dwi27.
Di tengah ramainya kritik, ada pula netizen yang memilih merespons polemik tersebut dengan candaan. Ia bahkan menyelipkan nama ChatGPT untuk menyindir proses pembuatan buku yang dipersoalkan.
Curiga ngambil di chat gpt saat bikin bukunya,”
canda @m.risqiyuliant.
Sementara itu, komentar lainnya justru menyampaikan sikap yang lebih singkat tetapi cukup nyelekit. Warganet tersebut mengaku buku itu menjadi sesuatu yang sebaiknya dihindari.
Ternyata ada buku yang mesti dihindarin,”
sindir @fildzahirsalina.





















