Kasus keracunan MBG yang dialami 361 siswa di Berastagi, Karo, Sumatra Utara, menyisakan tanda tanya besar, setelah salah satu korbannya, Febiola br Purba (16), mengalami kejang hebat hingga kehilangan ingatan.
Dari hasil pemeriksaan sampel makanan ditemukan adanya bakteri Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan E. coli.
Tetapi dokter menilai temuan itu belum menjelaskan mengapa kondisi Febiola bisa sampai menyerang fungsi otaknya.
Sebelumnya, Febiola diketahui mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan MBG pada 13 Agustus 2026.
Setelah dirawat dan sempat membaik, pada 16 Agustus kondisinya kemudian drop hingga menyebabkan kejang dan tidak sadarkan diri.
Setelah kejadian tersebut, Febiola disebut mengalami amnesia hingga 70 persen. Ia bahkan kesulitan mengenali orang tua, adik, teman sekolah, guru, hingga barang pribadinya.
Tergolong Tidak Lazim
Dokter dan epidemiolog Dicky Budiman mengatakan kombinasi kejang berat dan amnesia berkepanjangan tergolong tidak lazim pada kasus keracunan makanan.
Belum ada kesimpulan pasti secara medis. Kombinasi kejang disertai amnesia itu sebetulnya sangat jarang ditemukan pada kasus keracunan makanan,”
kata Dicky kepada Owrite pada 8 September 2026.
Menurut Dicky, kejang yang berat dan berlangsung lama yang disertai dengan komplikasi, seperti kekurangan oksigen atau gangguan elektrolit, memang dalam kondisi tertentu dapat memengaruhi fungsi otak dan berkontribusi terhadap munculnya gangguan neurologis, meski hal itu masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis.
Dicky juga menanggapi penyebab keracunan disebabkan oleh ikan tongkol yang berada di suhu ruang selama lebih dari 12 jam. Menurutnya, kondisi tersebut memang berisiko memicu keracunan histamin.
Namun, keracunan histamin umumnya menimbulkan gejala seperti wajah kemerahan, sakit kepala, jantung berdebar, mual, muntah, diare, hingga ruam.
Secara ilmiah keracunan histamin tidak punya mekanisme yang dikenal luas untuk menyebabkan kejang berat dan amnesia berkepanjangan,”
ujarnya.
Karena itu, Dicky menilai penyebab kondisi Febiola masih harus dicari. Pemeriksaan perlu melihat kemungkinan toksin atau bakteri lain hingga komplikasi seperti gangguan elektrolit atau kekurangan oksigen akibat kejang berkepanjangan yang dapat berdampak pada otak.


















