Abu vulkanik kerap dianggap hanya sebagai gangguan akibat erupsi gunung api. Namun, paparan material tersebut tetap perlu diwaspadai karena dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan tertentu.
Lantas, benarkah abu vulkanik bisa menyebabkan kematian?
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki karakteristik yang membuatnya berbeda dari partikel polusi udara perkotaan.
Material tersebut dapat bersifat abrasif sekaligus membawa senyawa yang memicu iritasi.
Studi morfologi menunjukkan abu vulkanik itu punya tepi tajam ya, menyerupai pisau dengan permukaan cekung bekas gelembung gas, sehingga sifatnya jauh lebih abrasif dibanding partikel polusi udara biasa,”
kata Dicky kepada Owrite, Rabu 09 September 2026.
Lapisan Senyawa Asam
Menurutnya, abu yang masih segar dari letusan juga dapat mengandung lapisan senyawa asam, seperti sulfat dan dalam kondisi tertentu fluorida.
Kandungan tersebut dapat menambah efek iritatif ketika abu terhirup atau mengenai bagian tubuh.
Meski demikian, Dicky menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menganggap paparan abu vulkanik dalam kondisi umum sebagai racun yang dapat menyebabkan kematian secara seketika.
Paparan abu vulkanik pada level yang dialami masyarakat umum saat ini sangat jarang ya, menyebabkan kematian langsung. Efek dominannya ya iritasi akut, batuk, sesak ringan, iritasi mata. Jadi, bukan racun yang mematikan seketika,”
ujarnya.
Risiko yang lebih serius, kata Dicky, justru dapat muncul melalui sejumlah kondisi tidak langsung. Misalnya, kecelakaan ketika warga membersihkan abu di atap rumah, kecelakaan lalu lintas akibat jarak pandang yang menurun atau permukaan jalan yang licin, serta memburuknya penyakit paru kronis.
Studi bahkan menemukan risiko fatal justru lebih banyak muncul dari faktor tidak langsung, seperti kecelakaan karena dia bersih-bersih di atap rumahnya ya, atau kecelakaan lalu lintas karena jarak pandang rendah ataupun licin,”
tutur Dicky.
Selain itu, paparan abu juga dapat memicu eksaserbasi atau perburukan berat pada orang yang sebelumnya memiliki penyakit paru kronis.
Karena itu, bahaya abu vulkanik tidak hanya berkaitan dengan efek iritasi sementara, tetapi juga kemampuan material tersebut memperberat penyakit yang sudah ada.
Risiko Lebih Tinggi
Dicky membedakan risiko berdasarkan jarak masyarakat dari sumber erupsi. Wilayah yang berada lebih dekat dengan lokasi letusan berpotensi menerima endapan abu dengan konsentrasi lebih tinggi.
Selain itu, masyarakat di sekitar sumber erupsi juga menghadapi kemungkinan bahaya sekunder.
Area dekat sumber erupsi seperti Banten, Lampung, atau dekat Selat Sunda risikonya lebih tinggi karena ketebalan abu yang jatuh jauh lebih pekat. Ditambah ada potensi bahaya sekunder seperti gas vulkanik dan gangguan jarak pandang yang ekstrem,”
katanya.
Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah dekat sumber erupsi diminta mengikuti informasi dan arahan evakuasi dari otoritas resmi.
Dicky mengingatkan warga agar tidak menunggu kondisi memburuk sebelum melakukan evakuasi apabila instruksi tersebut telah dikeluarkan.
Sementara itu, masyarakat di wilayah yang lebih jauh, termasuk Jabodetabek, umumnya menerima abu dengan konsentrasi lebih rendah.
Paru Obstruktif Kronis
Namun, paparan tetap perlu diminimalkan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Untuk masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah, Dicky menyarankan penggunaan masker berkualitas dengan ukuran yang sesuai dan menutup pintu serta jendela rumah guna mengurangi masuknya abu.
Kalau area terpapar jauh seperti Jabodetabek, meski abu yang sampai umumnya lebih tipis, tetap ada risiko iritatif kumulatif, terutama untuk kelompok rentan seperti anak, lansia, dan penderita asma atau PPOK,”
ujarnya.
Dicky juga meminta masyarakat tidak mengandalkan informasi yang beredar di media sosial tanpa verifikasi. Informasi terkait kondisi erupsi dan potensi bahaya sebaiknya merujuk pada sumber resmi seperti BMKG, BPBD, dan Badan Geologi.
Alat Pelindung Pernapasan
Di sisi lain, ia menilai pemerintah perlu memastikan ketersediaan alat pelindung pernapasan bagi masyarakat, terutama ketika permintaan masker meningkat.
Langkah tersebut dapat mencakup pengawasan terhadap penimbunan dan kenaikan harga yang tidak wajar, hingga distribusi masker gratis atau subsidi bagi kelompok rentan.
Selain perlindungan masyarakat, kesiapan fasilitas kesehatan juga dinilai penting untuk menganticipasi peningkatan pasien dengan keluhan akibat paparan abu vulkanik.
Pemerintah juga perlu memastikan komunikasi risiko dilakukan secara cepat dan konsisten serta memantau kualitas udara secara berkelanjutan.





















