Maraknya kasus keracunan makanan yang terjadi di lingkungan sekolah, pastinya akan membuat orang tua mulai waswas.
Apalagi, orang tua tidak setiap saat bisa mengawasi makanan apa saja yang dikonsumsi anak. Seperti saat anak sedang di sekolah, anak bisa saja membeli jajanan atau menerima makanan tanpa tahu apakah masih aman dimakan.
Ditambah Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat lebih dari 37 ribu anak sekolah menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak program tersebut dimulai pada Januari 2025 hingga Mei 2026.
Karena itu, selain memilih makanan yang aman, orang tua juga perlu membekali anak dengan cara sederhana untuk mengenali makanan yang sudah tidak layak dikonsumsi.
Perlu Diwaspadai
Ilmuwan Felix Zulhendri, Ph.D., pun membagikan beberapa cara yang bisa diajarkan orang tua kepada anak untuk mengenali makanan yang perlu diwaspadai.
Lewat akun TikTok-nya @felix.zulhendri, Felix yang aktif membahas kesehatan, sains, dan gizi mengingatkan ada beberapa tanda yang bisa diperhatikan sebelum makanan dimakan.
Lantas, apa saja yang perlu diajarkan kepada anak?
1. Waspada Makanan di Suhu Ruang
Orang tua bisa mulai mengajarkan anak untuk memperhatikan cara makanan tersebut disimpan.
Menurut Felix, makanan yang terlalu lama berada di suhu ruang lebih mudah rusak. Terutama makanan yang sudah tidak panas, tapi juga belum dingin.
Jadi, ajarkan anak untuk bertanya atau mengingat sudah berapa lama makanan dibiarkan sebelum akhirnya dikonsumsi.
2. Lihat Kondisi Makanan
Jangan cuma mengajarkan anak melihat apakah makanan terlihat enak. Ajarkan juga mereka mengenali perubahan pada bentuk dan tampilannya.
Ajarkan anak untuk curiga terhadap makanan yang bentuknya berubah, terlalu lembek, bonyok, berlendir, atau warnanya berubah secara tidak wajar.
Begitu juga kalau sudah terlihat tanda-tanda tumbuh jamur. Kalau menemukan kondisi seperti ini, ajarkan anak untuk tidak memaksakan diri memakannya.
3. Kenali Bau yang Tidak Normal
Anak juga bisa memakai indra penciumannya untuk melihat apakah ada perubahan pada makanan.
Felix menyebut bau asam yang aneh, bau tidak sedap, sampai aroma amis yang menyengat bisa menjadi tanda makanan sudah rusak.
Namun, orang tua perlu menekankan bahwa mencium makanan bukan berarti memastikan makanan aman. Kalau makanan sudah terlihat mencurigakan atau terlalu lama disimpan, sebaiknya tidak dimakan meski baunya masih normal.
4. Tanamkan Prinsip “Kalau Ragu, Jangan Dimakan”
Ini mungkin jadi aturan yang paling gampang diingat anak. Kalau anak melihat atau mencium sesuatu yang membuatnya ragu, ajarkan mereka untuk tidak memaksakan diri mengonsumsi makanan tersebut.
Felix menekankan, saat seseorang sudah bertanya-tanya apakah makanan itu masih layak dimakan atau tidak, sebaiknya makanan tersebut tidak dikonsumsi.
Dengan begitu, anak tidak perlu merasa bersalah saat memilih meninggalkan makanan yang diragukan kondisinya.
5. Ajarkan Anak Berani Bilang “Tidak”
Nah, ini yang nggak kalah penting, terutama untuk diajarkan kepada anak.
Ketika anak sudah merasa ragu dengan makanan yang akan dikonsumsi, tetapi ada orang lain yang memaksa agar makanan tersebut segera dihabiskan, ajarkan anak untuk berani mengatakan “tidak.”
Felix juga menekankan pentingnya consent terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh.
Menurutnya, segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh harus berdasarkan persetujuan diri sendiri. Karena itu, anak perlu dibiasakan berani mengatakan “tidak” saat merasa makanan yang diberikan tidak aman untuk dimakan.
Orang tua juga bisa menegaskan bahwa menolak makanan bukan berarti anak tidak sopan atau manja. Dalam situasi tertentu, mengatakan “tidak” justru merupakan cara untuk menjaga diri.
Jadi, orang tua memang tidak mungkin mengawasi semua makanan yang masuk ke perut anak sepanjang hari.
Namun, membekali anak dengan kemampuan mengenali tanda makanan rusak dan keberanian untuk menolak bisa menjadi perlindungan sederhana yang bisa mereka bawa ke mana pun.





















