Tren longevity atau upaya menjaga tubuh tetap sehat dan berfungsi optimal selama mungkin tengah berkembang di berbagai negara.
Konsep ini perlahan menggeser cara pandang terhadap penuaan, dari sekadar memperpanjang usia menjadi menjaga kualitas hidup dan fungsi tubuh, termasuk kesehatan kulit.
Dalam perkembangannya, pendekatan longevity tidak hanya berbicara soal pola makan, olahraga, tidur, maupun pemeriksaan kesehatan.
Perhatian juga mulai diarahkan pada proses biologis yang terjadi di tingkat sel, termasuk bagaimana menjaga sel tetap berfungsi optimal seiring bertambahnya usia.
Perubahan cara pandang tersebut turut memengaruhi dunia dermatologi dan estetika. Perawatan kulit tidak lagi semata-mata berorientasi pada mengurangi tanda penuaan yang terlihat di permukaan, tetapi juga mulai mengeksplorasi pendekatan yang menyasar proses biologis di balik kesehatan kulit.
Memahami Kesehatan Kulit
Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dr. Ruri Diah Pamela, Sp.D.V.E., FINSDV, FAADV, mengatakan perkembangan tersebut menjadi bagian dari perubahan besar dalam memahami kesehatan kulit.
Ada pergeseran besar yang sedang terjadi dalam cara kita memahami kulit sehat. Selama bertahun-tahun, perawatan kulit berfokus pada apa yang terlihat di permukaan. Kini, sains membawa kita jauh lebih dalam: ke tingkat sel, tempat proses penuaan dan peremajaan kulit sesungguhnya bermula,”
ujar Ruri dalam keterangannya, Selasa 08 September 2026.
Menurut dia, tren longevity yang berkembang secara global bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara berpikir mengenai bagaimana menjaga kulit tetap sehat dan berfungsi baik selama mungkin.
Sebagai dokter yang menekuni bidang ini, saya melihat tren longevity yang tengah menjadi tren global bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara berpikir baru: bagaimana menjaga kulit tetap sehat dan berfungsi baik selama mungkin, bukan sekadar menutupi tanda usia,”
katanya.
Ia menilai konsep glow pada kulit juga perlu dimaknai secara berbeda. Bukan hanya mengenai tampilan kulit yang terlihat bercahaya, tetapi juga berkaitan dengan kondisi sel kulit yang sehat dan memiliki fungsi yang baik.
Glow perlu dimaknai ulang, bukan kilau di permukaan, tetapi cerminan sel-sel kulit yang sehat dan berenergi,”
ujar Ruri.
Perawatan Berbasis Cahaya
Sejalan dengan perkembangan tersebut, teknologi photobiomodulation (PBM) menjadi salah satu pendekatan yang terus dikembangkan dalam bidang perawatan berbasis cahaya.
Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan cahaya pada panjang gelombang tertentu untuk berinteraksi dengan komponen sel yang disebut cellular chromophores.
Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dr. Feilicia Henrica, Sp.D.V.E., FINSDV, mengatakan pemahaman terhadap teknologi semacam ini tidak cukup hanya melihat efek yang tampak pada permukaan kulit.
Kami tidak berhenti pada pertanyaan what the device does on the skin. Lebih jauh, kami ingin memahami what happens inside the cell, bagaimana energi cahaya berinteraksi dengan cellular chromophores, dan bagaimana interaksi tersebut diterjemahkan menjadi respons biologis,”
ujar Feilicia.
Menurut dia, pemahaman mengenai mekanisme tersebut penting agar PBM tidak berhenti sebagai tren teknologi, tetapi dapat ditempatkan dalam konteks ilmiah dan praktik klinis.
Inilah titik di mana science, technology, dan clinical practice bertemu. Sebuah jembatan yang membawa Photobiomodulation (PBM) dari sekadar tren, menjadi terapi yang dipahami mekanismenya, didukung oleh scientific evidence, dan diterapkan secara profesional dalam praktik klinis,”
paparnya.
Sementara itu, National Sales Manager PT Redo Marketing Indonesia Vanda Wulandari mengatakan perangkat tersebut telah memiliki perjalanan pengembangan selama sekitar 15 tahun dengan data klinis.
Ia juga menyebut perangkat Celluma telah memperoleh FDA Clearance dan Medical CE Mark, serta telah digunakan di hampir 100 negara.
Menurut Vanda, lebih dari 35.000 perangkat telah digunakan di berbagai negara. Ia berharap teknologi PBM pada masa mendatang dapat semakin dikenal masyarakat.
Bagi kami, ini bukan sekadar peluang bisnis. Ini adalah amanah,”
ujar Vanda.
Bukti Ilmiah
Meski demikian, perkembangan teknologi dalam tren longevity membuat kebutuhan terhadap bukti ilmiah menjadi semakin penting.
Perawatan yang mengatasnamakan kesehatan sel maupun penuaan dini perlu dibedakan antara pendekatan yang memiliki dasar ilmiah dan sekadar mengikuti tren.
Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dr. Ruri Diah Pamela, Sp.D.V.E., FINSDV, FAADV, menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam perkembangan perawatan kulit di Indonesia.
Yang ingin saya sampaikan lewat forum ini: kulit yang sehat selalu dimulai dari dalam, dari unit terkecilnya. Dan yang kita butuhkan adalah bukti ilmiah, pendekatan yang berpijak pada ilmu dan bisa dipertanggungjawabkan,”
ungkapnya.
Ia berharap perkembangan tersebut dapat mendorong standar perawatan kulit yang lebih rasional, aman, serta sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia.
Harapan saya, cara pandang ini dapat menghadirkan standar perawatan kulit yang lebih rasional, aman, dan relevan bagi kulit orang Indonesia,”
tutup Ruri.





















