Apakah kamu pernah bertanya-tanya, mengapa makanan yang sama tapi reaksinya justru beda-beda tiap orang? Ada orang yang biasa saja setelah menyantap makanan, namun ada juga orang yang mengalami mual, muntah, bahkan gejala yang lebih berat.
Menurut epidemiolog dr. Dicky Budiman, M.Sc.P.H., ternyata respons tubuh terhadap makanan yang diduga terkontaminasi tidak selalu sama. Sebab, ada sejumlah faktor yang dapat membuat seseorang lebih rentan dibandingkan orang lain.
Dalam epidemiologi, kondisi ini berkaitan dengan dose-response relationship atau hubungan antara dosis paparan dengan respons tubuh.
Lantas, apa saja yang membuat reaksi setiap orang bisa berbeda?
1. Beda Porsi, Beda Efek
Salah satu penyebab perbedaan respons tubuh antara orang yang satu dengan yang lain adalah dari jumlah makanan yang dikonsumsi.
Menurut Dicky, seseorang yang mengonsumsi porsi lebih banyak berpotensi menerima paparan zat berbahaya yang lebih tinggi.
Namun, persoalannya tidak hanya soal banyak atau sedikit makanan yang dimakan.
Kontaminasi dalam satu kelompok makanan juga bisa tidak merata. Artinya, satu porsi bisa saja mengandung zat kontaminan jauh lebih tinggi dibandingkan porsi lainnya.
Itulah sebabnya dua orang yang menyantap makanan dari wadah yang sama belum tentu mendapatkan jumlah paparan yang sama.
2. Beda Berat, Beda Dosis
Berat badan juga dapat memengaruhi respons tubuh terhadap zat toksik. Dicky menjelaskan, anak dengan berat badan lebih rendah dapat menerima dosis toksin per kilogram berat badan yang lebih tinggi meskipun mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sama.
Sederhananya, satu jumlah zat yang masuk ke tubuh akan memiliki beban paparan yang berbeda ketika dihitung berdasarkan berat badan masing-masing orang.
Karena itu, efek paparan tidak bisa begitu saja disamaratakan hanya berdasarkan jumlah makanan yang dikonsumsi.
3. Kondisi Tubuh Berpengaruh
Selain dosis, kondisi tubuh juga ikut menentukan seberapa rentan seseorang terhadap zat tertentu. Status gizi, fungsi hati, dan fungsi ginjal juga bisa jadi faktor seberapa rentan seseorang terhadap kontaminasi tertentu.
Dicky menjelaskan, banyak zat toksik diproses di hati dan kemudian dikeluarkan melalui ginjal. Jika fungsi organ atau cadangan fungsional tubuh seseorang lebih rendah, respons terhadap paparan zat tertentu bisa berbeda.
Dengan kata lain, perlu memperhitungkan kondisi tubuh sebelum seseorang terpapar zat tertentu.
4. Riwayat Kesehatan
Jangan lewatkan riwayat kesehatan sebelumnya. Dalam kasus dengan gejala berat, dokter perlu melihat apakah seseorang memiliki kondisi kesehatan tertentu yang sudah ada sebelumnya.
Dicky menyebut gangguan elektrolit, kondisi neurologis, maupun masalah kesehatan lainnya perlu ditelusuri karena dapat berkaitan dengan munculnya gejala tertentu.
Karena itu, munculnya keluhan setelah seseorang mengonsumsi makanan tertentu tidak otomatis berarti makanan tersebut menjadi satu-satunya penyebab.
5. Kontaminasi Bisa Berbeda
Hal lain yang sering luput adalah tingkat kontaminasi makanan tidak selalu merata. Dalam satu batch makanan, bisa saja terdapat bagian yang memiliki kadar kontaminan lebih tinggi dibandingkan bagian lainnya.
Akibatnya, seseorang yang kebetulan mendapatkan bagian tersebut dapat menerima paparan lebih besar daripada orang lain yang makan dari batch yang sama.
Faktor ini menjadi salah satu alasan mengapa investigasi keracunan makanan tidak cukup hanya dengan mengetahui makanan apa yang dikonsumsi.
Kenapa Bisa Beda?
Ada banyak faktor yang membuat dua orang bisa memberikan respons berbeda setelah mengonsumsi makanan yang sama.
Mulai dari jumlah makanan yang dimakan, berat badan, status gizi, fungsi hati dan ginjal, riwayat kesehatan, hingga tingkat kontaminasi pada makanan yang dikonsumsi.
Dicky menegaskan, jika satu orang mengalami kondisi yang jauh lebih berat dibandingkan orang lain, hal tersebut tidak serta-merta membuktikan ataupun menyangkal bahwa keracunan makanan menjadi penyebabnya.
Karena itu, diperlukan pemeriksaan dan investigasi lebih mendalam untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Jadi, kalau pernah bertanya-tanya, “Kok orang lain makan makanan yang sama baik-baik saja, tapi aku malah sakit?”, jawabannya bisa jadi bukan cuma soal makanannya.
Tubuh setiap orang memiliki kondisi dan tingkat paparan yang berbeda, sehingga responsnya pun bisa berbeda.



















