Epidemiolog sekaligus peneliti di Griffith University Australia, dr. Dicky Budiman, B.Med., M.D., M.Sc.P.H., Ph.D., menegaskan bayi tidak disarankan menggunakan face shield maupun masker khusus sebagai perlindungan utama dari abu vulkanik.
Nah, hal lain, kalau bicara bayi, bayi ini tidak disarankan untuk memakai face shield atau masker khusus. Jadi masker termasuk N95 pada dasarnya didesain untuk wajah dewasa, jadi tidak dirancang untuk pas di wajah anak, apalagi bayi,”
kata Dicky kepada Owrite.
Ia menjelaskan, perlindungan terhadap bayi dalam kondisi paparan abu vulkanik seharusnya lebih mengutamakan upaya menjauhkan mereka dari sumber paparan dibandingkan memasangkan alat pelindung pada wajah.
Rekomendasi resminya sebetulnya secara tegas, cara paling efektif melindungi kelompok risiko tinggi seperti anak dan bayi ini dengan berlindung di lingkungan yang tidak berabu vulkanik, bukan mengandalkan masker,”
ujarnya.
Masker Bayi
Dicky turut mengingatkan orang tua agar tidak sembarangan menggunakan produk yang dipasarkan sebagai masker untuk bayi. Terlebih, terdapat produk yang penggunaannya dipadukan dengan empeng.
Ada juga risiko yang harus diketahui bahwa produk masker bayi atau masker yang dipasang empeng itu dapat menimbulkan risiko yang lebih besar, kerugian atau bahayanya dibanding manfaatnya untuk anak di bawah usia 2 tahun,”
kata Dicky.
Menurut dia, salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah gangguan pernapasan apabila alat tersebut justru menghalangi jalan napas bayi.
Termasuk risiko sesak napas akibat terhalang jalan napas, jadi bukan proteksi,”
tuturnya.
Partikel Abu Vulkanik
Dicky juga meluruskan anggapan bahwa face shield dapat memberikan perlindungan serupa terhadap abu vulkanik seperti ketika digunakan untuk mengurangi paparan droplet pada masa pandemi Covid-19.
Face shield itu dirancang untuk menahan droplet besar atau percikan, jadi bukan partikel halus yang melayang di udara,”
jelasnya.
Abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda karena dapat menyebar dalam bentuk partikel halus. Celah pada bagian samping, atas, maupun bawah face shield membuat partikel tersebut tetap berpotensi masuk ke area pernapasan.
Abu vulkanik itu justru menyebar sebagai partikel halus, bukan droplet, yang bisa dengan mudah masuk dari celah samping, atas, dan bawah face shield yang terbuka,”
ujar Dicky.
Karena itu, menurut Dicky, menyamakan perlindungan face shield terhadap abu vulkanik dengan penggunaannya saat pandemi Covid-19 merupakan pemahaman yang keliru.
Jadi analogi abu vulkanik dengan virus Covid-19 tidak tepat. Jadi face shield untuk abu vulkanik menimbulkan rasa aman keliru, padahal secara fisik tidak menghalangi partikel abu yang terhirup,”
katanya.
Dicky menegaskan, bayi dan balita sebaiknya tidak mengandalkan alat pelindung wajah untuk menghadapi paparan abu vulkanik. Upaya utama justru dengan menjauhkan mereka dari lingkungan yang terpapar abu.
Jadi sekali lagi, untuk bayi atau balita jangan mengandalkan alat pelindung wajah apa pun. Yang penting hindarkan dari paparan abu atau debu vulkanik itu,”
tambahnya.





















