Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga memperparah tekanan terhadap populasi orang utan yang kini berada dalam kondisi kritis.
Kebakaran menyebabkan satwa kehilangan habitat dan sumber pangan, sekaligus terpapar asap yang berisiko mengganggu kesehatan hingga meningkatkan potensi konflik dengan manusia.
Pakar Genetika Ekologi IPB University Prof. Ronny Rachman Noor mengatakan orang utan saat ini masuk dalam kategori Critically Endangered karena populasinya terus menurun akibat kerusakan habitat dan ekosistem, deforestasi, kebakaran hutan, serta perburuan liar.
Saat ini orang utan dikategorikan dalam kelompok satwa liar Critically Endangered karena populasinya terus menurun akibat kerusakan habitat dan ekosistem sebagai dampak deforestasi, kebakaran hutan, serta perburuan liar,”
jelas Ronny dalam keterangan resmi, Kamis 10 September 2026.
Sementara itu Populasi orang utan di Tapanuli kini hanya tinggal sekitar 716–800 ekor, demikian pula di Kalimantan yang populasinya tersisa 104.700 ekor, ungkapnya.
Menurutnya, karhutla semakin memperburuk kondisi tersebut karena orang utan kehilangan tempat tinggal sekaligus sumber pakan.
Situasi itu dapat memaksa satwa keluar dari kawasan hutan untuk mencari makanan dan mendekati permukiman warga.
Karhutla juga memaksa orang utan keluar dari habitatnya dan mendekati permukiman warga, yang tentunya akan meningkatkan risiko konflik dengan manusia. Konflik ini ke depannya diprediksi akan menambah tekanan pada populasi orang utan yang sudah sangat sedikit,”
paparnya.
Partikel Mikroskopis PM2.5
Selain kehilangan habitat, asap karhutla juga dapat berdampak langsung terhadap kesehatan orang utan. Ronny menjelaskan partikel mikroskopis PM2.5 dapat masuk ke saluran pernapasan hingga alveolus paru-paru dan memicu peradangan serta iritasi.
Dalam jangka pendek, paparan asap dapat menyebabkan kekurangan oksigen, batuk, dan sesak napas. Sementara dalam jangka panjang, paparan tersebut berpotensi memicu bronkitis dan penyakit paru obstruktif kronis.
Dari sisi kesehatan orang utan, keberadaan asap dan cemaran akibat kebakaran hutan sangat berbahaya bagi paru-paru dan metabolisme mereka karena sistem pernapasan mereka sangat sensitif terhadap polusi udara,”
jelasnya.
Paparan asap juga berpotensi mengganggu metabolisme dan sistem imun orang utan akibat stres oksidatif. Penurunan nafsu makan dapat membuat satwa menjadi lemas, kurang aktif, hingga mengalami penurunan berat badan.
Tidak hanya itu, stres fisiologis akibat paparan asap juga berpotensi mengganggu sistem reproduksi. Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin menambah tekanan terhadap populasi orang utan yang sudah berada dalam jumlah terbatas.
Kalimantan dan Sumatera
Ronny menilai persoalan karhutla yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera tidak dapat lagi dipandang sebagai masalah lokal. Dampaknya telah menyentuh keseimbangan iklim, kesehatan, perekonomian, dan keberlangsungan ekosistem.
Menurut dia, karhutla yang terjadi di Indonesia bahkan telah menjadi persoalan global karena dampaknya terhadap keseimbangan iklim, kesehatan, serta perekonomian dunia.
Dalam situasi seperti ini, tidak terlalu berlebihan jika dunia menuntut langkah nyata dari Indonesia untuk mengakhiri siklus tahunan kebakaran hutan ini dengan melakukan pencegahan kebakaran hutan secara berkelanjutan, menegakkan hukum yang tegas bagi pembakar hutan dan lahan,”
katanya.
Selain itu juga meningkatkan komitmen iklim global, serta meningkatkan transparansi data dan dampak agar dunia dapat membantu memantau, serta meningkatkan kerja sama regional untuk memperkuat koordinasi lintas batas guna mengurangi dampak kabut asap, tutup Ronny.

























