Pernah nggak sih kamu kepikiran buat mulai hobi baru? Karena mau coba hal yang baru, otomatis kamu pasti sangat eksaited dong buat beli perlengkapannya.
Sebenarnya ini hal yang wajar dan biasa saja, tapi ini bisa jadi masalah kalau kamunya baru kepikiran mau mulai suatu hobi, tapi barang yang dibeli sudah seperti orang yang bertahun-tahun menekuninya?
Misalnya kamu mau mulai hobi lari. Padahal kamu belum punya jadwal latihan rutin, tetapi sudah punya smartwatch olahraga, sepatu khusus, running vest, kacamata, sampai outfit race day.
Atau baru sekali main paddle, tetapi sudah sibuk membandingkan raket seharga jutaan rupiah, sepatu khusus, grip, dan tas.
Nah, fenomena seperti ini belakangan lagi viral dibahas di media sosial, salah satunya dari aku TikTok @agusleohalim. Fenomena ini dikenal dengan sebutan Gear Acquisition Syndrome (G.A.S.).
Apa Itu G.A.S.?
Melansir dari laman Maekan, G.A.S merupakan istilah untuk kebiasaan membeli perlengkapan secara berlebihan, bahkan sebelum benar-benar membutuhkannya.
Istilah ini awalnya banyak digunakan dalam komunitas fotografi. Namun, perilakunya bisa terjadi pada berbagai hobi dan aktivitas, mulai dari olahraga, musik, membuat konten, memasak, hingga gaming.
Sebenarnya permasalahannya bukan sekadar membeli barang baru. G.A.S. bisa membuat seseorang lebih sibuk mempersiapkan perlengkapan daripada melakukan aktivitas yang ingin ditekuni.
Misalnya, kamu pengen jadi content creator, kamu maunya harus beli kamera atau gimbal baru dulu buntuk mulai bikin video. Atau ingin jadi podcaster, tetapi harus menunggu sampai memiliki mikrofon profesional dulu buat mulai bikin episode pertama.
Padahal, aktivitasnya sendiri bahkan belum benar-benar dimulai dan kamu belum benar-benar tahu nanti alurnya mau gimana.
Kenapa Bisa Terjadi?
Salah satu pemicunya adalah karena keinginan untuk mengurangi rasa tidak yakin atau takut gagal ketika baru memulai sesuatu.
Terkadang membeli perlengkapan baru memang bisa memberikan rasa puas secara instan. Bahkan kadang muncul perasaan seperti sudah selangkah lebih dekat dengan tujuan hanya karena memiliki alat yang digunakan oleh orang-orang yang sudah ahli.
Punya smartwatch olahraga membuat seseorang merasa seperti runner sejati, atau membeli kamera membuatnya merasa seperti content creator yang sukses.
Padahal, barang tersebut belum otomatis membentuk kemampuan atau identitas seseorang.
Karena, pemasaran juga memainkan peran yang penting. Seperti banyak brand yang tidak hanya menjual fungsi sebuah produk, tetapi juga menjual gambaran mengenai diri kita setelah memiliki produk tersebut.
Lebih fit, lebih produktif, lebih keren, atau lebih profesional.
Akibatnya, kamu kadang tidak lagi membeli barang karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena ingin membeli versi diri yang kita bayangkan.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Langkah pertama adalah menyadari apakah kita memang membutuhkan perlengkapan baru atau sekedar cari alasan untuk membeli barang tersebut.
Sebelum checkout, coba tanyakan pada diri sendiri: “Barang ini benar-benar membuat saya lebih maju atau cuma membuat saya merasa sudah maju?”
Kalau baru ingin memulai suatu hobi, tidak ada salahnya menggunakan perlengkapan yang sudah ada dulu.
Bila membutuhkan alat tertentu tetapi belum yakin akan digunakan dalam jangka panjang, kamu bisa saja mempertimbangkan untuk pinjam atau sewa saja.
Yang tidak kalah penting, mulai saja dengan apa yang ada. Sebab, kemampuan tidak terbentuk dari seberapa mahal perlengkapan yang dimiliki, tetapi dari seberapa sering kamu menggunakannya.
Jadi, sebelum kembali memasukkan barang baru ke keranjang belanja, mungkin yang sebenarnya kamu butuhkan bukan perlengkapan tambahan tapi rasa validasi akan bayang-bayang yang ada di kepala mu




























