BMKG memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau tidak memicu kenaikan tinggi gelombang yang signifikan di Selat Sunda. Pemantauan ini dilakukan secara ketat untuk mengantisipasi potensi tsunami, mengingat kawasan tersebut pernah dilanda tsunami akibat aktivitas Anak Krakatau pada 2018.
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani mengatakan BMKG tidak memantau aktivitas gunung secara langsung. Fokus BMKG adalah mengukur dampak erupsi, termasuk pergerakan abu vulkanik, kondisi laut, hingga potensi tsunami.
Kalau dari BMKG sendiri kita tidak memonitor apa yang terjadi di gunung tapi apa dampaknya terhadap abu sebaran debu vulkanik ataupun seperti ketinggian atau ancaman tsunami seperti itu,”
kata Ida di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Kekhawatiran Tsunami


Adapun, kekhawatiran terhadap tsunami menjadi perhatian khusus karena erupsi Anak Krakatau sebelumnya pernah memicu tsunami di Selat Sunda.
Karena itu, BMKG mengaktifkan pemantauan tinggi muka air laut di sejumlah titik di kawasan tersebut.
Ida mengatakan BMKG memiliki sekitar 20 sensor yang tersebar di sekitar Selat Sunda. Sensor tersebut digunakan untuk memantau perubahan muka air laut yang dapat menjadi indikator awal adanya tsunami.
Karena ini merupakan tsunami atau tsunami yang dihasilkan dari erupsi gunung ini berupa bukan berupa tsunami dari aktivitas tektonik, maka yang dapat dilakukan adalah dengan meletakkan beberapa tide gauge di beberapa lokasi, sekitar 20 lokasi di sekitar Selat Sunda,”
ujarnya.
Pemantauan dilakukan secara terus-menerus, terutama terhadap sensor yang berada paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau. BMKG akan memberikan peringatan apabila ditemukan perubahan tinggi muka air laut yang signifikan.
Nah kalau kita lihat dari situ, itu tidak terlihat pada saat awal-awal itu tidak terlihat adanya peningkatan tinggi gelombang. Padahal sekarang ini juga masih tetap kita pantau,”
kata Ida.
Tak hanya menggunakan tide gauge, BMKG juga mengaktifkan High-Frequency Radar atau HF Radar yang terpasang di Carita dan Tanjung Lesung. Perangkat tersebut digunakan untuk memantau aktivitas laut, termasuk arus dan ketinggian gelombang.
Ida mengatakan hasil pemantauan HF Radar juga tidak menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada ketinggian gelombang maupun arus laut ketika erupsi Anak Krakatau terjadi.
BMKG melihat bahwa pada saat terjadinya erupsi tidak ada peningkatan signifikan terhadap aktivitas laut berupa ketinggian gelombang maupun arus laut,”
ujarnya.
Pemodelan kondisi laut juga dilakukan untuk melihat potensi perubahan gelombang beberapa hari setelah erupsi.
Tidak Ada Peningkatan Tinggi Gelombang


Berdasarkan pemodelan BMKG pada 9 hingga 14 September, tidak terlihat adanya peningkatan tinggi gelombang yang disebabkan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Dan kalau kita lihat di sini ketinggian gelombang akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak terlihat,”
kata Ida.
Menurut Ida, perubahan gelombang yang terlihat dalam pemodelan lebih berkaitan dengan fenomena laut secara global, bukan dampak lokal dari aktivitas erupsi Anak Krakatau.
Jadi kalau kita lihat di sini bahwa dampak terhadap ketinggian gelombang atau peningkatan tinggi gelombang tidak dihasilkan oleh Gunung Anak Krakatau selama beberapa hari ke depan,”
ujarnya.
Pemantauan hingga kondisi terkini juga menunjukkan situasi yang relatif aman. Selain tidak ada kenaikan signifikan tinggi gelombang, pemantauan tide gauge menunjukkan tidak terdapat perubahan muka air laut yang mengindikasikan potensi tsunami akibat erupsi.
Ida menegaskan BMKG tetap melakukan pemantauan karena kondisi Anak Krakatau dapat berubah sewaktu-waktu.
Masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda juga perlu mengikuti informasi resmi BMKG dan tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan aktivitas erupsi yang terlihat.
























