BMKG mengerahkan sekitar 20 sensor untuk memantau tinggi muka air laut di kawasan Selat Sunda setelah Gunung Anak Krakatau kembali erupsi.
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani mengatakan langkah ini dilakukan untuk mendeteksi sedini mungkin perubahan muka air laut yang berpotensi menjadi indikator tsunami. Pemantauan tinggi muka air laut menjadi salah satu fokus BMKG dalam mengantisipasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.
Karena ini merupakan tsunami atau tsunami yang dihasilkan dari erupsi gunung ini bukan berupa tsunami dari aktivitas tektonik, maka yang dapat dilakukan adalah dengan meletakkan beberapa tide gauge di beberapa lokasi, sekitar 20 lokasi di sekitar Selat Sunda,”
kata Ida dalam diskusi di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Pemantauan tersebut menjadi penting karena aktivitas Gunung Anak Krakatau memiliki catatan pernah memicu tsunami di Selat Sunda. Peristiwa tersebut membuat perubahan tinggi muka air laut di sekitar kawasan gunung menjadi salah satu parameter yang harus terus diawasi ketika terjadi erupsi.
BMKG Pantau Sensor Muka Air Laut


Ida menjelaskan BMKG memantau sejumlah sensor muka air laut yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Sensor yang berada di lokasi terdekat menjadi perhatian khusus untuk melihat ada atau tidaknya perubahan tinggi gelombang secara signifikan.
Nah, ini dimonitor terus, paling tidak ada empat yang terdekat ini dimonitor ketinggian gelombangnya, maka ketika terjadi ketinggian gelombang signifikan, maka di situlah BMKG memberikan alarm,”
ujarnya.
Artinya, pemantauan tidak dilakukan hanya setelah ada laporan perubahan kondisi laut. Sistem tersebut dijalankan terus untuk menangkap perubahan yang terjadi sedini mungkin setelah aktivitas erupsi.
Berdasarkan hasil pemantauan ketika erupsi terjadi, BMKG tidak menemukan adanya kenaikan tinggi gelombang yang signifikan. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa erupsi saat itu tidak memicu tsunami.
Nah kalau kita lihat dari situ, itu tidak terlihat pada saat awal-awal itu tidak terlihat adanya peningkatan tinggi gelombang. Padahal sekarang ini juga masih tetap kita pantau,”
kata Ida.
Pantau dengan HF Radar


Selain menggunakan tide gauge, BMKG mengaktifkan High-Frequency Radar atau HF Radar yang terpasang di Carita dan Tanjung Lesung. Perangkat ini digunakan untuk memantau aktivitas laut, termasuk arus dan ketinggian gelombang.
Ida mengatakan hasil pemantauan HF Radar juga tidak menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aktivitas laut saat erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi.
BMKG melihat bahwa pada saat terjadinya erupsi tidak ada peningkatan signifikan terhadap aktivitas laut berupa ketinggian gelombang maupun arus laut,”
ujarnya.
Pemantauan juga dilakukan melalui pemodelan kondisi laut untuk melihat kemungkinan perubahan tinggi gelombang dalam beberapa hari setelah erupsi.
Hasil pemodelan BMKG pada 9 hingga 14 September menunjukkan tidak adanya kenaikan gelombang yang disebabkan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Dan kalau kita lihat di sini ketinggian gelombang akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak terlihat,”
kata Ida.
Menurut Ida, perubahan gelombang yang muncul dalam pemodelan lebih berkaitan dengan fenomena laut secara global, bukan dampak lokal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Jadi kalau kita lihat di sini bahwa dampak terhadap ketinggian gelombang atau peningkatan tinggi gelombang tidak dihasilkan oleh Gunung Anak Krakatau selama beberapa hari ke depan,”
ujarnya.























