Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar hingga ketinggian 50.000 kaki atau sekitar 15 kilometer. BMKG menyebut pergerakan abu tidak hanya menuju satu arah, tetapi bergerak ke barat dan timur mengikuti kondisi angin pada masing-masing lapisan atmosfer.
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani mengatakan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau terpantau cukup luas sejak peningkatan aktivitas erupsi pada 5 hingga 6 September 2026.
Kalau kita lihat di situ, jenis sebarannya tidak hanya ke laut atau ke samudra, tapi juga meluas yaitu ke wilayah Lampung, kemudian wilayah Banten, bahkan beberapa jam berikutnya sampai dengan Jawa Barat,”
kata Ida dalam diskusi di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis, 10 September 2026.
Tersebar Dibeberapa Ketinggian


Menurut Ida, sebaran abu vulkanik memiliki pola berbeda berdasarkan ketinggiannya. Pada lapisan rendah hingga 15.000 kaki atau sekitar 5 kilometer, abu bergerak ke arah timur.
Sementara itu, pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi, pergerakan abu dapat mengarah ke barat. Perbedaan arah tersebut dipengaruhi oleh arah angin pada masing-masing ketinggian.
Dan kalau kita lihat di situ, ada yang ke arah timur itu di lapisan rendah itu sangat-sangat berbahaya untuk penerbangan,”
ujarnya.
Kondisi tersebut membuat dampak erupsi Anak Krakatau tidak hanya dirasakan di sekitar gunung. Sebaran abu pada lapisan rendah dapat menjangkau wilayah yang jauh dari sumber erupsi, termasuk Jakarta dan Jawa Barat.
Ida menjelaskan BMKG memantau pergerakan abu vulkanik menggunakan sejumlah sumber data. Informasi aktivitas gunung api dari PVMBG dikombinasikan dengan produk Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin serta analisis citra satelit Himawari-8.
Kombinasi dari ketiga proses tersebut, maka nanti terlihat sebaran abu vulkaniknya ke mana atau debu vulkaniknya ke mana,”
kata Ida.
Informasi tersebut kemudian dituangkan BMKG dalam Significant Meteorological Information atau SIGMET, khususnya Volcanic SIGMET yang berisi peringatan mengenai keberadaan dan pergerakan abu vulkanik untuk kepentingan penerbangan.
Peringatan itu disebarkan kepada bandara dan pihak terkait penerbangan. Dengan informasi tersebut, pilot maupun pengatur lalu lintas udara dapat mengetahui wilayah yang harus dihindari ketika sebaran abu vulkanik mengancam jalur penerbangan.
Bahaya ke Mesin Pesawat


Bahaya abu vulkanik bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Material tersebut dapat masuk ke mesin pesawat dan mengganggu kinerjanya ketika pesawat melintas di wilayah yang terdampak.
Jadi ketika pesawat terbang ke daerah debu vulkanik ini akan berbahaya bagi engine atau mesin pesawat,”
ujar Ida.
Menurut Ida, paparan abu vulkanik dalam jumlah tertentu bahkan dapat menyebabkan penurunan kinerja mesin hingga berpotensi membuat mesin gagal berfungsi saat penerbangan. Karena itu, informasi mengenai ketinggian dan arah pergerakan abu menjadi sangat penting bagi keselamatan penerbangan.
BMKG juga melakukan paper test di sejumlah bandara untuk memastikan apakah abu vulkanik yang terdeteksi melalui pemantauan jarak jauh benar-benar telah mencapai wilayah tersebut.
Hasil pengujian di lapangan kemudian menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi pihak berwenang dalam menentukan apakah aktivitas bandara tetap berjalan atau harus dihentikan.
Jadi BMKG melakukan beberapa paper test sehingga inilah yang kemarin menjadi salah satu acuan penutupan dari bandara-bandara terutama di wilayah terdampak di Sumatera bagian Selatan dan juga Jawa bagian Barat,”
kata Ida.























