Istilah Backburner belakangan ramai dipakai Gen Z di media sosial untuk menggambarkan posisi “cadangan” dalam hubungan. Seseorang yang ada di posisi ini biasanya tidak benar-benar ditinggalkan, tapi juga tidak dijadikan prioritas. Umumnya, seseorang yang berada di posisi ini tetap dihubungi sesekali, diberi harapan, namun tanpa kepastian.
Dilansir dari jurnal Intelek dan Cendekiawan Nusantara Rabu, 29 April 2026, secara harfiah, backburner berarti pembakar belakang pada kompor di wilayah Amerika Serikat dan Eropa. Istilah ini merujuk pada bagian kompor yang hanya digunakan saat diperlukan dalam waktu tertentu. Konsep ini memiliki kesamaan dengan kondisi dalam hubungan interpersonal, khususnya ketika komunikasi efektif tidak berjalan dengan baik.
Individu yang berada pada posisi backburner biasanya hanya dihubungi ketika dibutuhkan oleh orang lain. Hal ini juga sejalan dengan idiom bahasa Inggris “put on back burner”, yang berarti tidak memprioritaskan sesuatu. Dengan demikian, peran backburner dalam hubungan dapat diartikan sebagai posisi seseorang yang tidak menjadi prioritas dalam timbal balik hubungan.






