Nilai tukar rupiah kini mengalami tekanan hampir menyentuh level Rp17.000 per dolar AS. Rupiah dalam perdagangan Rabu pagi, 21 Januari 2026 berada di level Rp16.965 per dolar AS.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik. Dari dalam negeri Perry mengakui, pelemahan rupiah datang dari persepsi pasar karena pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia menggantikan Juda Agung.
Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan Deputi Gubernur,”
ujar Perry dalam konferensi pers Rabu, 21 Januari 2026.
Perry menyatakan, proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia sudah dilakukan sesuai dengan undang-undang, dan tidak akan memengaruhi kewenangan bank sentral.
Tadi kami tegaskan bahwa proses pencalonan Deputi Gubernur adalah sesuai undang-undang tata kelola, dan tentu saja tidak memengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia yang tetap profesional dengan tata kelola yang kuat,”
tuturnya.
Selain karena hal ini, Perry mengungkapkan bahwa tertekannya rupiah disebabkan oleh keluarnya modal asing dari RI. Hal ini dikarenakan ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi.
Juga ada faktor-faktor domestik, tentu saja tadi kami sampaikan aliran modal asing keluar juga karena ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun juga Danantara,”
jelasnya.
Sedangkan dari faktor eksternal, Perry mengatakan kondisi global akibat geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, tingginya US Treasury, dan sempitnya peluang Fed Fund Rate (FFR) menjadi penyebab rupiah melemah.
Di samping juga kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dolar menguat, dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika. Seperti tadi kami sampaikan pada tahun 2026 ini terjadi net outflow US$1,6 miliar data hingga 19 Januari 2026. Itulah faktor-faktor global,”
terang Perry.
Tak Segan-segan Intervensi
Lanjut Perry, otoritas moneter juga tidak segan-segan melakukan intervensi dalam jumlah besar. Stabilisasi rupiah dilakukan BI melalui intervensi di pasar NDF baik di off-shore maupun on-shore (DNDF) dan pasar spot.
Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat, didukung oleh kondisi fundamental ekonomi kita yang baik termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, demikian juga prospek yang membaik,”
katanya.
Perry mengatakan, dalam melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah juga didukung melalui cadangan devisa. Ia menyebut, cadangan devisa yang digunakan untuk stabilisasi cukup besar.
Cadangan devisa kami cukup besar dan lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Sebagaimana kami sampaikan dalam berbagai kesempatan, memang cadangan devisa kami kumpulkan pada saat masuk dan kami gunakan tidak segan-segan kami gunakan cadangan devisa itu untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,”
ujarnya.


