Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 5 Feb 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • Cari Tahu
  • WARGA SPILLNew
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Banjir
  • sumatera
  • longsor
  • Bola
  • Spill
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / (Part I) Tahta Deputi Gubernur BI: Thomas Djiwandono dan Jebolnya Brankas Independensi De Javasche Bank
Ekonomi Bisnis

(Part I) Tahta Deputi Gubernur BI: Thomas Djiwandono dan Jebolnya Brankas Independensi De Javasche Bank

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
Last updated: Januari 29, 2026 3:59 pm
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
Deputi Gubernur Bank Indonesia terpilih, Thomas Djiwandono (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Deputi Gubernur Bank Indonesia terpilih, Thomas Djiwandono (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
SHARE

Tahun 1828, pemerintah Kerajaan Belanda memberikan octrooi atau hak-hak istimewa kepada De Javasche Bank (DJB) untuk bertindak sebagai bank sirkulasi pertama di Asia.

Daftar isi Konten
  • Pertaruhan Rupiah di Meja Makan Keluarga
  • Kompetensi dan Meritokrasi

Sebagai bank sirkulasi, lembaga itu berwenang mencetak dan mengedarkan uang Gulden di wilayah Hindia Belanda.

Octrooi secara periodik diperpanjang setiap 10 tahun sekali. Secara keseluruhan, DJB telah melalukan tujuh kali masa perpanjangan octrooi. 

Tahun 1922, pemerintah Belanda menerbitkan Undang-Undang De Javasche Bank Wet. Pemerintah kolonial pun menggunakan DJB untuk mendukung kebijakan finansial dari sistem tanam paksa.

Rentang 1829-1870, DJB melakukan ekspansi bisnis dengan membuka kantor cabang di beberapa kota di Hindia Belanda, termasuk di luar Jawa: Semarang (1829), Surabaya (1829), Padang (1864), Makassar (1864), Cirebon (1866), Solo (1867), dan Pasuruan (1867).

Tahun 1951, enam tahun setelah proklamasi kemerdekaan, muncul desakan kuat untuk mendirikan bank sentral sebagai wujud kedaulatan ekonomi Republik Indonesia.

Maka, pemerintah memutuskan untuk membentuk Panitia Nasionalisasi DJB. Proses nasionalisasi dilakukan melalui pembelian saham DJB oleh pemerintah Indonesia, dengan besaran mencapai 97 persen.

Pada 1 Juli 1953, terbitlah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1953 tentang Pokok Bank Indonesia (BI), yang menggantikan DJB Wet.

Sejak saat itulah Bank Indonesia secara resmi berdiri sebagai Bank Sentral Republik Indonesia. Regulasi tersebut merupakan ketentuan pertama yang mengatur BI sebagai bank sentral.

Tugas BI tidak hanya sebagai bank sirkulasi, melainkan sebagai bank komersial melalui pemberian kredit.

Pada masa ini, terdapat Dewan Moneter (DM) yang bertugas menetapkan kebijakan moneter. DM diketuai Menteri Keuangan dengan anggota Gubernur BI dan Menteri Perdagangan.

Selanjutnya, BI bertugas menyelenggarakan kebijakan moneter yang telah ditetapkan oleh DM. Era berlalu, kini keberadaan BI mendapatkan mandat baru di bidang makroprudensial.

Perubahan besar ini secara otomatis membutuhkan penguatan internal melalui langkah transformasi BI.

Dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), BI bertekad berperan aktif dalam pengembangan dan penguatan sektor keuangan di dalam negeri.

Salah satu Gubernur BI ialah Joseph Soedradjad Djiwandono, pemimpin BI kurun Maret 1993-Februari 1998.

Ia memiliki anak, yakni Thomas Djiwandono dan Budi Djiwandono—nama pertama terpilih menjadi Deputi Gubernur BI—dari hasil pernikahannya dengan anak dari Sumitro Djojohadikusumo.

Sumitro merupakan ayah dari Presiden Indonesia saat ini, Prabowo Subianto. Artinya, Thomas menduduki kursi Deputi Gubernur BI ketika pamannya menjadi orang nomor satu di Indonesia.

27 Januari 2026, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, dalam uji kelayakan dan kepatutan kandidat Deputi Gubernur, menjadi seorang “buta yang berjalan tanpa ragu”.

Sebab fakta Thomas merupakan keponakan Prabowo tidak bisa ditampik, namun Misbakhun mengakui si kandidat tetap profesional ketika bertugas nanti.

Bahwa fakta Pak Thomas keponakan (Prabowo), iya. Tapi dia tadi sangat profesional menjelaskan tentang bagaimana kebijakan-kebijakan itu diambil dalam sebuah proses. Sehingga kalau menurut saya, isu itu bisa dikesampingkan bahwa ada profesionalisme,”

aku Misbakhun.

Ketika ditanya perihal ketiadaan pengalaman Thomas dalam ranah kebijakan moneter, Misbakhun mengatakan bahwa:

Pengalaman monetary policy itu bisa diperkuat ketika Thomas mempunyai pengalaman fiscal policy. Jadi saling melengkapi dan bisa berjalan dalam proses selanjutnya.”

Pertaruhan Rupiah di Meja Makan Keluarga

Manajer Riset Strategis CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet berkata, rekam jejak Thomas yang kental dengan afiliasi politik—sebagai Bendahara Umum Gerindra—dan hubungan kekerabatan dengan kekuasaan memunculkan persepsi negatif terkait potensi intervensi pemerintah terhadap kebijakan moneter.

Publik tidak bisa menafikan, meskipun disampaikan beliau sudah mundur dari partai, tapi rekam jejak historis menunjukkan beliau orang dekat dengan kepemimpinan saat ini yang menimbulkan risiko atau persepsi tidak begitu baik terutama dari aspek independensi Bank Sentral,”

kata Yusuf kepada owrite.

Karena dengan masuknya Thomas, ada kekhawatiran keputusan-keputusan BI “bisa” dipengaruhi oleh pandangannya dan akan bias terhadap kutub tertentu, misalnya pemerintah.

Sorotan utama tertuju pada risiko fiscal dominance, sebuah kondisi di kebijakan moneter (BI) disetir dan dipaksa tunduk untuk melayani kebutuhan fiskal (pemerintah/APBN).

Analogi ekonomi yang sehat ialah seperti sebuah kendaraan. Pemerintah yang agresif membelanjakan anggaran (untuk program seperti Makan Bergizi Gratis) berfungsi sebagai kaki yang menginjak ‘gas’ untuk pertumbuhan.

Sementara, BI berfungsi sebagai kaki yang menginjak ‘rem’ untuk menjaga stabilitas dan inflasi. Bahaya muncul ketika kedua ‘kaki’ dikendalikan oleh satu kepentingan yang sama.

(Kekhawatirannya) ketika ada intervensi dan bank sentral itu kehilangan kekuatan untuk mengatakan ‘tidak’ pada beberapa aspek yang nanti diminta oleh pemerintah dari sisi kolaborasi fiskal dan moneter,”

lanjut dia.

Jika intervensi terjadi dan BI gagal mengerem, inflasi bisa melonjak drastis. Ketika inflasi meningkat di luar target karena intervensi politik, maka harga barang naik. Dalam konteks daya beli masyarakat yang masih tertekan saat ini, kondisi tersebut adalah kabar buruk.

Pasar keuangan adalah indikator paling jujur dan cepat dalam merespons risiko ini. Pelemahan nilai tukar rupiah sesaat setelah nama Thomas mencuat sebagai kandidat kuat menjadi bukti nyata kegelisahan investor.

Market sudah me-highlight, salah satunya risiko tergerusnya independensi bank sentral dengan terpilihnya beliau. Ini dibuktikan dengan nilai tukar rupiah yang kembali melemah,”

Jelas Yusuf.

Selain itu, ada pula dampak jangka panjang terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Jika persepsi independensi BI rusak, investor akan menuntut kompensasi risiko yang lebih tinggi.

Skenario moderatnya, investor tetap membeli SBN, tapi mereka meminta imbal hasil (yield) yang lebih tinggi lantaran risiko membesar. Imbal hasil tinggi bakal membebani bunga utang pemerintah di masa depan. Padahal, proporsi bunga utang negara meningkat dalam 10 tahun terakhir.

Ini adalah konsekuensi-konsekuensi yang dapat muncul ketika pemerintah tidak bisa, atau dalam hal ini Bank Sentral, tidak bisa memastikan independensinya,”

ucap dia.

Kompetensi dan Meritokrasi

Selain isu independensi, Yusuf juga menyoroti aspek kompetensi dan meritokrasi. Ia menilai, pengalaman Thomas di sektor moneter sangat minim jika dibandingkan dengan kandidat lain yang berasal dari karier internal BI dan juga menjadi kandidat Deputi Gubernur, Dicky Kartikoyono dan Solikin M Juhro.

Posisi Thomas yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dalam waktu singkat pun belum cukup membuktikan kapasitas teknokratisnya untuk jabatan strategis Deputi Gubernur BI.

Penempatan figur politik atau keluarga di posisi teknokratis tanpa basis meritokrasi yang kuat berpotensi merusak tata kelola lembaga negara, yang menurut Yusuf sebagai sinyal kemunduran bagi reformasi institusional pasca-1998.

Saya kira memang ada tren ke sana (kemunduran demokrasi). Semoga yang publik perkirakan ini salah, tapi memang ada tendensi ke sana. Orang-orang dekat dengan pemerintah ditempatkan tanpa menjalankan prinsip meritokrasi. Seandainya orang yang ditempatkan itu tidak punya pengalaman, tidak heran menimbulkan pertanyaan ‘apakah dia bisa menjalankan pekerjaannya?”

kata Yusuf.

Kini, publik dan pasar hanya bisa menunggu dan mengawasi. Apakah Thomas mampu membuktikan dirinya sebagai teknokrat yang independent, atau justru membenarkan ketakutan pasar bahwa BI menjadi “kasir” bagi ambisi politik pemerintah.

Tag:Bank IndonesiaBerita PentingDe Javasche BankDPRSpillThomas Djiwandono
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Reporter
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Ikuti
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

@owritedotid

BERITA TERKINI

Indeks berita
Prakiraan Cuaca
Megapolitan

Prakiraan Cuaca BMKG: Jabodetabek Berpotensi Diguyur Hujan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi prakiraan cuaca hari ini di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Menurut ramalan, wilayah Jabodetabek akan diguyur hujan pada hari ini,…

By
Syifa Fauziah
Ivan
1 Min Read
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Hukum

Pejabat Bea Cukai dan Pajak Kena OTT KPK di Kantornya, Purbaya: Ya Biarin Aja

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT), di Banjarmasin dan Jakarta. OTT ini menyasar pejabat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Bea dan Cukai (DJBC). Merespons Hal ini,…

By
Anisa Aulia
Dusep
3 Min Read
Bahan Peledak yang dipakai siswa SMPN 3 Sungai Raya Kalbar untuk meneror sekolahnya.
Nasional

Tragis, Korban Bullying Siswa SMP Kalbar Jadi Pelaku Teror Bom Molotov di Sekolahnya

Kasus pelajar terpapar paham radikalisme kembali terjadi. Kali ini melibatkan seorang siswa SMP kelas IX SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat. Pelaku nekat meledakkan sekolahnya sendiri dengan menggunakan bom molotov.…

By
Rahmat
Dusep
2 Min Read

BERITA LAINNYA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (sumber: Youtube/TV Parlemen)
Ekonomi Bisnis

Purbaya Klaim Realisasi Setoran Pajak Awal Tahun 2026 Tumbuh 30,8 Persen

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan, realisasi penerimaan negara pada awal 2026…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep
14 jam lalu
Ketua Komisi XI Mukhamad Misbakhun.
Ekonomi Bisnis

Ketua Komisi XI DPR Dikabarkan Jadi Calon Bos OJK Baru, Misbakhun: Saya Belum Tahu

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun dikabarkan masuk pencalonan untuk menduduki…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep
18 jam lalu
Mantan Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar (tengah) bersama mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesai (BEI) Imam Rachman (kiri) dan mantan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi (kanan) menyampaikan keterangan saat konferensi pers di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Ekonomi Bisnis

Jejak Intervensi Eksekutif di Balik Lengsernya Bos OJK–BEI, Siapa yang Pantas Gantikan?

Sektor keuangan Tanah Air akhir-akhir ini mengalami guncangan usai Indeks Harga Saham…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep
19 jam lalu
Pramuniaga menunjukkan emas batangan
Ekonomi Bisnis

Harga Emas Antam Rabu 4 Februari 2026 Naik, Nyaris Tembus Rp3 Juta per Gram

Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menguat pada hari…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan
21 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up