Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hidayana mengatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah mendongkrak penjualan motor dan mobil. Sebab, pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) banyak melakukan pembelian motor.
Dadan mengatakan, penjualan motor pada 2025 berdasarkan data Astra Honda Motor (AHM) mengalami kenaikan menjadi 4,9 juta. Kenaikan ini disebabkan oleh Program MBG.
Ternyata dari data AHM kita melihat angka penjualan motor mencapai 4,9 juta tahun 2025 dan ini terdongkrak oleh program MBG,”
ujar Dadan dikutip Selasa, 17 Februari 2026.
Merespons hal ini, Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, pernyataan Kepala BGN terkait hal tersebut tidaklah tepat. Ia menilai, angka tersebut bukan realisasi secara nasional, namun hanya penjualan satu merek besar.
Pernyataan Kepala BGN bahwa penjualan motor naik hingga 4,9 juta unit karena Program MBG perlu dilihat secara kritis. Karena angka tersebut identik dengan penjualan satu merek besar, bukan total nasional yang menurut data AISI mencapai sekitar 6.412.769 unit ya,”
ujar Yannes kepada owrite.
Yannes mengatakan, secara logika memang benar ada pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang membeli motor. Namun, angkanya pada tahun 2025 belum cukup masif untuk menggerakkan pasar nasional.
Ketika data korporasi diposisikan seolah-olah sebagai dampak langsung kebijakan negara, di situ berpotensi munculnya bias interpretasi. Jadi secara logika, memang benar ada pegawai dapur gizi yang beli motor, namun secara skala, jumlahnya pada 2025 belum cukup masif untuk menggerakkan pasar nasional secara sendirian,”
terangnya.
Yannes mengatakan, bila dihitung secara realistis kontribusi pegawai SPPG terhadap total pembelian motor nasional 2025 kemungkinannya sangat kecil, atau hanya sebagian kecil dari keseluruhan volume pasar.
Pada 2025, dapur yang benar-benar aktif masih sekitar 5 ribuan unit, belum mencapai puluhan ribu seperti target tahun 2026 ini,”
katanya.
Dengan begitu, Yannes mengatakan dampak persentase statistik pada grafik sales motor nasional nyaris tidak terlihat. Dia mengatakan, pernyataan Dadan tersebut berpotensi menjadi overclaim dan lebih bernuansa politis.
Statement bahwa satu program secara dominan yang berdampak pada sales nasional tersebut berpotensi jadi overclaim, dan lebih bernuansa politis dibanding kesimpulan berbasis struktur pasar industri,”
tuturnya.
Memang, berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) ada kenaikan penjualan motor sepanjang 2025 sebesar 1,3 persen. Pada Januari-Desember 2025, penjualan motor mencapai 6.412.769 unit, dibandingkan pada 2024 yang hanya sebanyak 6.333.310 unit.
Namun, Yannes menilai kenaikan penjualan itu secara logis disebabkan oleh faktor struktural. Sebab, motor merupakan alat kerja utama dan mobilitas populasi terbesar masyarakat.
Kenaikan penjualan motor 2025 yang tumbuh sekitar 1,3 persen secara lebih logis singkatnya dapat dijelaskan oleh faktor struktural. Motor tetap menjadi alat kerja utama dan mobilitas populasi masyarakat terbesar selama puluhan tahun di Indonesia, terutama pada dekade terakhir tumbuh di sektor informal, kurir, dan ojek daring,”
jelasnya.
Selain itu katanya, fenomena turunnya kelas middle income class menjadi lower class ikut mendorong permintaan. Karena ketika sebagian konsumen membatalkan rencana membeli mobil LCGC lalu beralih ke motor premium seperti NMAX atau PCX dan sebagainya.
Jadi program MBG pasti akan menambah pembeli di sekitar dapur operasional, tapi perannya lebih sebagai pelengkap. Pasar motor Indonesia yang sangat besar umumnya bergerak oleh daya beli berbasis komoditas, musim panen, serta kebutuhan logistik harian kelompok terbesar masyarakat Indonesia di berbagai daerah,”
katanya.
Sementara, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil nasional dari dealer ke konsumen akhir (retail) sepanjang 2025 sebanyak 833.692 unit atau turun 6,3 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 889.680 unit.

