Harga minyak dunia kini sudah melambung tinggi mencapai US$82 per barel. Kondisi ini dipicu oleh situasi yang memanas akibat serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel kepada Iran.
Kondisi ini salah satunya direspons Iran dengan menutup Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur strategis perjalanan global. Pasalnya Selat Hormuz merupakan pintu keluar-masuk utama di negara kawasan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengatakan Indonesia sudah mengeluarkan jutaan dolar untuk mengimpor minyak dan gas (migas) dari kawasan Timur Tengah.
BPS mencatat, RI paling banyak melakukan impor migas dari Arab Saudi pada Januari 2026.
Impor migas dari Arab Saudi ini sebesar US$267,4 juta atau kontribusinya 8,44 persen,”
ujar Ateng dalam konferensi pers Senin, 2 Maret 2026.
Lalu, Indonesia juga melakukan impor migas dari Uni Emirat Arab (UEA) senilai US$200,6 juta atau kontribusinya 6,34 persen. Kemudian Qatar sebesar US$1,8 juta, dan kontribusinya 2,58 persen.
Untuk Mesir itu US$73,4 juta atau kontribusinya 2,32 persen, Oman itu US$7,9 juta kontribusinya 2,14 persen,”
jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri berpotensi naik karena memanasnya konflik di Timur Tengah.
Sebab, penutupan Selat Hormuz telah membuat pasokan minyak terganggu.
Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraina kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat, dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,”
ujar Airlangga.


