World Bank dan International Monetary Fund (IMF) kompak memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026. World Bank memperkirakan ekonomi akan melambat di 4,7 persen, dan IMF sebesar 5 persen.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman menilai revisi proyeksi dari dua lembaga internasional ini menegaskan bahwa risiko global kini menjadi faktor dominan yang memengaruhi ekonomi Indonesia.
Revisi proyeksi oleh IMF dan World Bank menegaskan bahwa risiko global kini menjadi faktor dominan terhadap ekonomi Indonesia. Kombinasi suku bunga global tinggi, pelemahan permintaan dunia, dan eskalasi geopolitik, ruang ekspansi ekonomi domestik menjadi lebih sempit,”
ujar Rizal saat dihubungi Owrite.id dikutip Jumat, 17 April 2026.
Indef sendiri dalam kondisi realistis seperti saat ini memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi 2026 hanya akan tumbuh di 5 persen. Rizal menilai, konflik Timur Tengah berpotensi mengoreksi pertumbuhan ekonomi melalui kanal energi dan nilai tukar.
Dia menjelaskan, kenaikan harga minyak ke kisaran US$90–US$100 per barel akan langsung menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui subsidi energi, sekaligus menurunkan daya beli masyarakat akibat tekanan inflasi.
Dalam skenario moderat, dampaknya akan memangkas pertumbuhan sekitar 0,2 persen hingga 0,3 persen. Besaran penurunan pertumbuhan ini bisa lebih dalam jika disrupsi meluas ke jalur logistik global.
Perspektif proyeksi Indef, pertumbuhan ekonomi 2026 realistis berada diangka 5 persen,”
katanya.
Ekonomi 6 Persen Tak Realistis
Adapun di tengah kondisi ini, pemerintah masih meyakini ekonomi RI akan tetap tumbuh sebesar 5,3 persen pada 2026, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan tumbuh 6 persen.
Rizal menilai, bila hanya sebatas optimis, target pertumbuhan di 5,3 persen masih memungkinkan dicapai. Namun, target pertumbuhan 6 persen tidak realistis untuk dicapai dalam jangka pendek.
Struktur ekonomi Indonesia yang masih bertumpu pada konsumsi membuat akselerasi pertumbuhan sangat bergantung pada daya beli, yang saat ini justru mulai melemah terutama di kelas menengah. Tanpa lonjakan investasi dan ekspor, ruang untuk mencapai 6 persen praktis sangat terbatas,”
tuturnya.
Menurut Rizal, target pertumbuhan 6 persen hanya realistis dalam horizon menengah, dengan reformasi struktural dan transformasi ekonomi yang konsisten.
Untuk mencapai angka pertumbuhan itu, Indonesia perlu memperkuat basis industri, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, memperluas basis pajak, dan menciptakan kepastian kebijakan untuk menarik investasi jangka panjang.
Tanpa itu, proyeksi ekonomi akan cenderung stagnan di kisaran 5 persen,”
katanya.
Kendati demikian, Rizal mengatakan untuk tahun ini pertumbuhan ekonomi masih akan ditopang oleh konsumsi domestik dan hilirisasi komoditas, meskipun kualitasnya kini mulai tergerus.
Konsumsi kelas menengah yang hanya tumbuh sekitar 4 persen menunjukkan adanya tekanan struktural, sementara investasi belum sepenuhnya pulih karena investor masih dalam posisi wait and see. Ini membuat pertumbuhan tetap bertahan, tetapi kehilangan akselerasi,”
imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan, ekonomi RI tumbuh 5,5 persen pada kuartal I-2026. Sedangkan sepanjang 2025 diperkirakan tumbuh di 5,3 persen.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal I tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen,”
ujar Airlangga.
Sementara itu, World Bank memproyeksikan ekonomi RI hanya tumbuh 4,7 persen pada 2026, atau melambat dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen. Kemudian IMF memperkirakan pertumbuhan di 5 persen, dibandingkan ramalan sebelumnya di 5,1 persen.


