Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) memprediksi harga nikel global dapat menembus hingga US$22.000 per ton dalam beberapa tahun ke depan seiring perubahan besar pada struktur pasokan dan meningkatnya permintaan dari industri baterai kendaraan listrik (EV).
Sekretaris Umum APNI Meidy Katrin Lengkey mengatakan, pasar nikel mulai memasuki era baru. Hal ini ditandai dengan pengendalian pasokan dan potensi defisit global.
Ke depan, era pasokan murah nikel Indonesia telah berakhir. Defisit nikel global yang struktural mungkin mulai terlihat seiring lambatnya laju RKAB dan melonjaknya permintaan baterai EV,”
kata Meidy dalam keterangan resminya, dikutip Selasa, 21 April 2026.
Untuk jangka pendek pada 2026, kata Meidy, harga nikel diperkirakan bergerak di kisaran US$17.000 hingga US$18.500 per ton. Namun, dalam jangka panjang, RI disebut akan berupaya menjaga harga pada level strategis.
Target jangka pendek berada di kisaran US$17.000–US$18.500 per ton, sementara plafon jangka panjang dijaga pada kisaran US$22.000 per ton,”
ujarnya.
Lonjakan harga itu dinilai sebagai batas psikologis sekaligus ekonomis. Jika harga melampaui ambang tersebut, produsen nikel dari Barat yang saat ini tidak aktif berpotensi kembali beroperasi, sehingga dapat menambah pasokan dan menekan harga.
Pengendalian Produksi Nikel Tahun 2026
Perubahan arah pasar ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah Indonesia dalam mengendalikan produksi melalui pengetatan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Pada 2026, kuota produksi dipangkas menjadi sekitar 250–270 juta ton, turun signifikan dari tahun sebelumnya yang mencapai 379 juta ton.
Dengan kebutuhan smelter yang diperkirakan mencapai 350 juta ton, kondisi ini membuka potensi defisit pasokan bijih nikel hingga 80–100 juta ton dalam jangka menengah.
Selain faktor pasokan, pemulihan permintaan global juga menjadi pendorong utama harga, terutama dari sektor kendaraan listrik. APNI menilai, berakhirnya fase destocking rantai pasok baterai di Eropa dan China juga akan memicu kembali peningkatan permintaan fisik nikel.
Siklus inventori yang mulai pulih akan mendorong re-akselerasi permintaan, khususnya dari industri baterai EV,”
beber Meidy.
Di sisi lain, dinamika geopolitik dan kebijakan lingkungan global akan memengaruhi arah pasar. Penerapan regulasi seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) oleh Uni Eropa dinilai akan mendorong transformasi industri nikel Indonesia menuju produksi yang lebih rendah emisi.
Dengan kombinasi pengendalian pasokan, pemulihan permintaan, serta tekanan regulasi global, APNI optimis pasar nikel akan bergerak menuju keseimbangan baru yang lebih terkelola.
Pasar nikel kini memasuki era ‘managed supply’. Disiplin produksi dan integrasi industri akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga ke depan,”
tutup Meidy.



