Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sering dianggap sebagai momentum peningkatan penerimaan negara dari sektor energi. Namun faktanya tidak sesederhana itu, karena kenaikan penerimaan tidak hanya ditentukan oleh faktor kurs saja.
Menurut Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita, mengatakan bahwa pelemahan rupiah secara mekanis dapat meningkatkan nilai penerimaan berbasis dolar dalam rupiah. Efek ini dikenal sebagai efek translasi.
Namun, penerimaan negara tidak otomatis meningkat. Realisasinya sangat ditentukan oleh harga komoditas global, volume produksi atau ekspor, serta skema fiskal seperti pajak, royalti, dan bagi hasil,”
kata Ronny pada Owrite, Rabu, 6 Mei 2026.

Efek Berbeda di Migas dan Minerba
Ia menekankan, pada sektor minyak dan gas bumi (migas), dampak positif pelemahan rupiah terhadap penerimaan negara tidak sepenuhnya terasa. Hal ini disebabkan adanya komponen pengurang mekanisme cost recovery serta kewajiban pemenuhan kebutuhan dalam negeri (domestic market obligation/DMO).
Jadi, kenaikan nilai dari kurs tidak langsung masuk ke kas negara secara penuh,”
ujarnya.
Sementara itu, pada sektor batu bara dan nikel, efek pelemahan rupiah lebih ‘menggigit’ karena basis ekspor yang kuat dan sebagian besar biaya operasional menggunakan rupiah. Meski demikian, Ronny menegaskan dampaknya tetap tidak bersifat linier.
Kalau harga komoditas global turun atau volume produksi terganggu, maka efek dari pelemahan kurs bisa tertutup,”
ujarnya.

Pelemahan Rupiah Tak Bisa Jadi Patokan Tetap
Menurut Ronny, kontribusi tambahan penerimaan dari pelemahan rupiah juga bersifat kontekstual dan tidak dapat dijadikan patokan tetap. Dalam beberapa kasus, penerimaan negara memang meningkat, terutama saat harga komoditas sedang tinggi. Namun, tambahan tersebut jarang menjadi faktor penentu utama dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Secara agregat, ini bisa membantu, tetapi jarang menjadi game changer tanpa dukungan harga komoditas yang kuat,”
jelasnya.
Sebagai penutup, Ronny menilai pelemahan rupiah bukan jaminan peningkatan penerimaan negara dari sektor energi. Kurs hanya menjadi salah satu variabel yang lebih kompleks, yang turut dipengaruhi oleh kondisi pasar global dan kebijakan fiskal domestik.


