Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, akan ikut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dengan melakukan intervensi di pasar obligasi (bond market). Hal ini dilakukan sejalan dengan ambruknya rupiah ke level Rp17.505 per dolar Amerika Serikat (AS).
Purbaya mengatakan, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah merupakan tugas dari Bank Indonesia (BI). Dia meyakini, otoritas moneter bisa mengendalikan nilai tukar rupiah yang saat ini terperosok
Tugas Bank Sentral hanya satu kan menjaga stabilitas nilai tukar, dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana di Bank Sentral saya pikir mereka akan bisa mengendalikan dengan baik,”
ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa, 11 Mei 2026.
Pemerintah Ikut Bantu
Adapun pelemahan rupiah ini akan memberikan dampak ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, sebab asumsi nilai tukar rupiah yang dipatok sebesar Rp16.500 per dolar. Untuk itu, Purbaya mengatakan, akan ikut membantu menahan gejolak rupiah di pasar.
Kita bisa akan mulai membantu besok mungkin dengan masuk ke bond market,”
jelasnya.
Purbaya menjelaskan, upaya stabilisasi yang akan dilakukan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan memanfaatkan skema intervensi di pasar surat berharga atau bond market, melalui dana stabilitas obligasi atau Bond Stabilization Fund (BSF).
Kita masih banyak uang anggur, kita intervention bond market supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi. Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar. Jadi kita kendalikan itu supaya asing yang nggak keluar,”
imbuhnya.
Rupiah Melemah Selasa Pagi
Sebelumnya, nilai tukar rupiah diperdagangkan melemah pada Selasa pagi, 12 Mei 2026. Rupiah terperosok sebesar 0,52 persen atau 91 poin ke level Rp17.505 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Sukman Leong mengungkapkan pelemahan rupiah ini disebabkan oleh kondisi eksternal di Timur Tengah dan sentimen dari domestik.
Rupiah diperkirakan akan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meredupnya harapan damai AS-Iran, serta harga minyak mentah dunia yang masih tinggi,”
ujar Lukman saat dihubungi Owrite.id Selasa, 12 Mei 2026.


