Publik resah lantaran marak begal beberapa waktu belakangan. Faktor ekonomi diduga menjadi salah satu pendorong meningkatnya aksi kriminalitas tersebut.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita mengatakan dari sisi ekonomi meningkatnya kerentanan masyarakat akibat tekanan biaya hidup, melemahnya daya beli, dan ketidakpastian pendapatan bisa menjadi salah satu faktor yang mendorong sebagian orang masuk ke aktivitas kriminal.
“Ketika kebutuhan dasar semakin sulit dipenuhi sementara peluang ekonomi terbatas, sebagian individu menjadi lebih rentan mengambil jalan pintas yang destruktif,”
ujar Ronny saat dihubungi Owrite.id, Senin, 25 Mei 2026.
Namun, Ronny menegaskan bahwa kemiskinan tidak otomatis melahirkan kejahatan. Sebab, mayoritas masyarakat yang hidup susah tetap memilih jalan yang jujur. Hal yang perlu diperhatikan adalah kombinasi antara kemiskinan, ketimpangan, dan hilangnya harapan ekonomi.
Begal tumbuh bukan hanya lantaran orang miskin, melainkan lahir karena rasa frustasi sosial.
“Dalam banyak kasus, begal tumbuh bukan hanya karena orang miskin, tetapi karena muncul rasa frustasi sosial ketika mereka melihat kesenjangan yang sangat lebar antara kelompok yang memiliki akses ekonomi dengan yang tertinggal,”
jelas Ronny.
Dia berpendapat pada era media sosial saat ini kontras gaya hidup semakin terlihat. Sementara sebagian anak muda menghadapi kenyataan sulit seperti mendapatkan pekerjaan layak, penghasilan stabil, atau mobilitas sosial.
“Ketika aspirasi tinggi tetapi akses ekonomi sempit, maka potensi penyimpangan sosial akan ikut meningkat,”
ujar Ronny.
Bertahan Hidup
Kelahiran begal juga karena sulitnya lapangan kerja. Tingginya angka pengangguran, terutama di kalangan usia muda dan pekerja informal, menciptakan kelompok masyarakat yang berada dalam situasi rentan.
“Dalam kondisi seperti itu, sebagian mudah dipengaruhi lingkungan negatif, kelompok kriminal, atau ekonomi ilegal yang menawarkan uang cepat tanpa keterampilan tinggi. Ini yang berbahaya, karena kriminalitas berubah bukan hanya menjadi tindakan spontan, tetapi bisa berkembang menjadi ekonomi alternatif di tengah lemahnya kesempatan kerja formal,”
terang dia.
Ronny menilai tekanan ekonomi pasca berbagai gejolak global beberapa tahun terakhir membuat biaya hidup naik lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan sebagian masyarakat. Ketika harga kebutuhan pokok, transportasi, dan biaya pendidikan meningkat, sementara pendapatan stagnan, maka tekanan sosial di lapisan bawah ikut membesar.
“Jika kondisi ini tidak diimbangi dengan perlindungan sosial, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan keamanan publik, maka potensi kriminalitas jalanan akan terus meningkat,”
tegas dia.
Perkuat Strategi
Sebagai solusi menghadapi maraknya begal tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan keamanan dan penindakan hukum, Ronny menawarkan cara agar pemerintah perlu memperkuat strategi ekonomi yang menyentuh akar persoalan.
“Seperti membuka lapangan kerja produktif, memperluas pelatihan keterampilan anak muda, memperkuat UMKM, serta memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati kelompok tertentu saja. Sebab kriminalitas akhirnya sering menjadi cermin dari tekanan sosial-ekonomi yang tidak terselesaikan dengan baik,”
jelas dia.



