Pergerakan pasukan Israel yang kian jauh ke wilayah Lebanon memicu lonjakan harga minyak dunia pada Senin, 1 Juni 2026. Langkah tersebut dikhawatirkan memicu bentrokan dengan kelompok Hizbullah dan mengancam gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan Iran.
Dilansir dari CNBC hari ini, harga minyak mentah Brent naik 2,45 persen menjadi US$93,35 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,8 persen menjadi US$89,78 per barel.
Eskalasi konflik terjadi setelah pembicaraan Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika di Washington, Jumat lalu. Hal ini memudarkan harapan bahwa Washington dan Teheran mendekati perpanjangan kesepakatan gencatan senjata mereka.
“Bersama Menteri Pertahanan Yisrael Katz, saya memerintahkan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk memperluas operasi di Lebanon,”
kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Perintah tersebut dikeluarkan meskipun gencatan senjata telah diumumkan pada April. Di sisi lain, Goldman Sachs mengatakan risiko terhadap proyeksi harga Brent dan WTI pada kuartal IV-2026 masing-masing US$90 per barel dan US$83 per barel.
Ganggu Pasok
Bank investasi itu memperingatkan gangguan pasokan yang berkepanjangan di Timur Tengah dapat mendorong harga lebih tinggi, tetapi pelemahan permintaan juga berpotensi menimbulkan risiko penurunan harga yang signifikan.
Goldman memperkirakan data penjualan eceran minyak yang lemah yang terjadi pada April lalu di China dan Eropa Barat mengindikasikan risiko penurunan permintaan sekitar 2 juta barel per hari, dibandingkan proyeksi permintaan sebelumnya yang memang relatif rendah.



