Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia kian sulit diabaikan. Dalam beberapa hari terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam, bersamaan dengan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Situasi ini memantik peringatan dari Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Amin Ak. Menurutnya, pemerintah tak boleh menganggap gejolak tersebut sebagai fluktuasi biasa, karena pasar sedang mengirim pesan yang harus dibaca dengan serius.
Pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS merupakan sinyal yang perlu dicermati secara serius. Pemerintah tidak boleh menganggap ini sebagai gejolak biasa,”
kata Amin Ak dalam keterangan pers di Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.
Ia mengakui, tekanan global seperti penguatan dolar AS, konflik geopolitik, dan volatilitas pasar internasional ikut memengaruhi kondisi saat ini. Namun, menurutnya faktor eksternal tak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan persoalan di dalam negeri.
Kepercayaan Investor
Bagi Amin, pasar bergerak bukan hanya karena data ekonomi. Namun, tetapi juga karena persepsi dan tingkat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah.
Kepercayaan investor adalah aset yang sangat berharga. Ketika pasar melihat adanya ketidakpastian, baik terkait arah kebijakan maupun kondisi ekonomi ke depan, maka respons yang muncul biasanya berupa aksi jual dan perpindahan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman,”
ujar Amin.
Amin menilai, pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Bursa Efek Indonesia memang telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup jika tidak dibarengi komunikasi yang kuat dan konsisten kepada pelaku pasar.
Fundamental ekonomi memang penting, tetapi fundamental yang baik harus mampu diterjemahkan menjadi keyakinan pasar,”
jelasnya.
Menurut dia, pemerintah perlu memastikan bahwa pesan mengenai kondisi ekonomi nasional tersampaikan dengan baik. Upaya itu didukung dengan langkah nyata yang bisa meningkatkan keyakinan pelaku pasar.
Amin mengingatkan, bahwa dampaknya tidak hanya terasa di pasar saham, tetapi juga dapat merembet ke kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, menekan dunia usaha, dan pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat jika berlangsung dalam waktu yang panjang.
Kita memahami ada faktor global yang kuat, tetapi pemerintah bersama otoritas moneter perlu memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga agar tidak menimbulkan efek lanjutan terhadap sektor riil dan aktivitas ekonomi masyarakat,”
lanjut Amin.
Karena itu, ia mendesak adanya koordinasi yang lebih kuat antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan untuk mengembalikan kepercayaan pasar.
Kita ingin pasar modal Indonesia kembali menjadi tujuan investasi yang menarik. Karena itu, stabilitas harus dijaga, kepastian harus diperkuat, dan kepercayaan investor harus dipulihkan,”
ujar Amin.



