Harga minyak dunia naik tipis pada awal perdagangan Rabu. Kenaikan ini karena para investor menilai apakah perang di Iran benar-benar akan berakhir, dan Selat Hormuz akan kembali dibuka.
Dilansir dari CNBC pada Rabu, 17 Juni 2026, harga minyak mentah Brent naik 47 sen atau 0,6 persen, menjadi US$79,43 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 48 sen atau 0,6 persen menjadi US$76,53 per barel.
Kedua patokan harga tersebut turun sekitar 5 persen pada sesi kedua berturut-turut pada hari Selasa ke level terendah dalam tiga bulan terakhir. Penurunan didorong oleh harapan bahwa kesepakatan AS-Iran akan memungkinkan aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Pasar minyak mengalami koreksi karena ekspektasi bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali menyusul perjanjian damai, namun para pelaku pasar menahan diri dari penjualan lebih lanjut sambil menunggu rincian lebih lanjut,”
kata Kepala Strategi Nissan Securities Investment Hiroyuki Kikukawa.
Harga Minyak WTI Tetap bergejolak

Ia menambahkan, harga WTI kemungkinan akan tetap bergejolak dalam kisaran sekitar US$80 per barel, dengan potensi pergerakan naik atau turun hingga US$10.
Adapun rincian kesepakatan damai sementara mulai terungkap pada Selasa, dengan Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut akan menghalangi Teheran memiliki senjata nuklir. Sementara seorang pejabat AS mengatakan kesepakatan itu akan memungkinkan Iran menjual minyak begitu ditandatangani.
Nota kesepahaman yang hingga kini belum dipublikasikan itu memperpanjang gencatan senjata rapuh yang diumumkan pada April selama 60 hari lagi, guna membuka jalan menuju perundingan perdamaian permanen.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sementara Teheran akan mengizinkan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, yang secara efektif terhenti sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari.
Investor Butuh Pemulihan Penuh di Selat Hormuz

Meski demikian, para pelaku industri memperkirakan pemulihan penuh produksi dan kapasitas pengolahan minyak ke tingkat sebelum perang kemungkinan membutuhkan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Di samping itu, Israel telah mengambil jarak dari gencatan senjata April maupun kesepakatan terbaru AS-Iran. Sehingga menambah ketidakpastian mengenai keberlangsungan kesepakatan damai tersebut
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan serangan drone Israel menargetkan tiga kendaraan di Lebanon Selatan pada Selasa, menewaskan setidaknya empat orang dan melukai beberapa orang lainnya. Trump mengeluarkan kecaman publik yang jarang terjadi terhadap taktik militer Israel.
Sementara itu, data menunjukkan bahwa volume pengolahan minyak mentah China pada Mei turun 9,1 persen secara tahunan ke level terendah dalam hampir empat tahun, yang juga menandakan bahwa perusahaan penyulingan mulai memanfaatkan cadangan di tengah konflik dengan Iran.
Di sisi lain, laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 8,3 juta barel pada 12 Juni. Angka tersebut jauh melampaui perkiraan pasar yang perkirakan penurunan sebesar 4,6 juta barel berdasarkan data resmi dari Energy Information Administration (EIA).



