“Stok (Cadangan Beras Pemerintah/CBP) Indonesia per Juni, sekitar 5,2 juta ton sampai dengan hari ini dan stok (negara) aman. Hal terpenting, (sejak) tahun 2025 tidak ada keluar izin impor beras medium (sampai sekarang),”
ujar Amran dalam keterangannya, Sabtu, 20 Juni 2026.
Amran meminta kepada pihak yang masih meragukan melimpahnya stok CBP agar melihat langsung ke gudang-gudang Bulog yang ada di berbagai daerah.
“Kapasitas (gudang) Bulog hanya 3 juta ton, tapi stok (Indonesia) 5,2 juta ton. Artinya, Bulog hari ini menyewa gudang (kapasitas) 2,2 juta ton. (Siapapun) yang belum yakin, silakan ke gudang Bulog seluruh Indonesia,”
kata dia.
Stok Bisa Meningkat
Terkait stok beras, FAO memperkirakan stok beras Indonesia dapat mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026, dan berpotensi meningkat hingga 7,8 juta ton pada periode 2026/2027. Sehingga peluang Indonesia sebagai eksportir beras pun semakin terbuka lebar.
Bahkan tingkat inflasi beras Indonesia secara bulanan sudah melandai dalam 2 tahun terakhir. FAO dalam laporan terbarunya mengemukakan harga produsen yang stabil di beberapa negara berhasil mendorong keinginan petani untuk lebih memilih menanam padi dibandingkan tanaman lain.
FAO menyebut hal tersebut terjadi di Indonesia, Korea Selatan, Pakistan, dan Filipina. Kondisi ideal tersebut tentu punya andil positif terhadap peningkatan panen. Di sisi lain terdapat negara yang dilaporkan FAO mengalami penurunan produksi beras, antara lain Kamboja, India, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand.
Lembaga internasional itu pun kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara, dan juga menjadi tertinggi keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh. Namun, dari empat negara tersebut hanya China dan Indonesia yang diproyeksikan bakal mengalami perkembangan produksi beras yang positif.