Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Pulau Jawa sejak 8 Juni 2026 terus jadi sorotan luas. Pemadaman listrik bergilir itu dikeluhkan masyarakat karena mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.
Pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan ada dua dampak krusial dari adanya pemadaman bergilir memperlihatkan pasokan listrik masih menjadi kebutuhan dasar. Kondisi itu berpengaruh langsung terhadap produktivitas usaha maupun kualitas hidup warga.
Achmad menuturkan saat listrik padam berulang maka dampaknya langsung terasa. Pertama, aktivitas ekonomi terganggu seperti UMKM yang kehilangan jam operasional.
Toko kelontong kehilangan transaksi, pedagang makanan menghadapi risiko stok rusak. Laundry gagal memenuhi pesanan, dan industri menanggung biaya tambahan untuk genset atau kehilangan output produksi,”
kata Achmad pada Owrite, Selasa, 23 Juni 2026.
Menurut dia, gangguan terhadap aktivitas ekonomi terjadi karena listrik jadi penopang utama operasional berbagai sektor usaha.
Selain berdampak pada sektor ekonomi, pemadaman listrik juga mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat. Padahal, masyarakat bergantung pada ketersediaan listrik untuk berbagai kebutuhan dasar.
Lalu, Kedua karena dampaknya mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat yang ikut goyah.
Anak tidak bisa belajar, pekerja rumah tangga produktif kehilangan waktu kerja, fasilitas kesehatan kecil terganggu, dan rumah tangga harus menanggung ketidakpastian yang seharusnya tidak terjadi pada layanan dasar,”
ujarnya.
Ia menilai persoalan tersebut tak bisa dipandang hanya sebagai gangguan teknis semata. Menurutnya, pemadaman listrik merupakan indikator penting dalam menilai kualitas pelayanan publik dan ketahanan energi nasional.
Pemadaman listrik bukan sekadar gangguan teknis. Ia adalah ujian terhadap kualitas pelayanan publik, ketahanan energi, dan tata kelola negara,”
jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan listrik merupakan infrastruktur dasar yang menopang hampir seluruh aktivitas masyarakat dan ekonomi.
Maka itu, ia mempertanyakan relevansi berbagai target pembangunan nasional. Namun, layanan dasar seperti listrik masih belum memberikan kepastian kepada masyarakat.
Menurut dia, tak ada artinya jika Indonesia berbicara tentang hilirisasi, digitalisasi, kendaraan listrik, data center, dan pertumbuhan ekonomi tinggi. Bagi dia, hal itu jadi sorotan saat kebutuhan listrik malah terganggu.
Jika listrik sebagai urat nadi paling dasar masih padam bergilir dan masyarakat tidak memperoleh kepastian layanan?”
imbuhnya.















![Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) berbincang dengan perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa usai pertemuan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (15/6/2026). [Foto: ANTARA FOTO/Fauzan].](https://www.owrite.id/wp-content/uploads/2026/06/Mahasiswa-temui-Wapres-Gibran-di-Istana-Wapres_Owrite-300x169.webp)









