Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Rupiah Terus Loyo dan Dekati Rp18.000 per Dolar AS, The Fed dan MSCI Jadi Biang Kerok

Melemahnya rupiah terhadap dolar AS ini karena semakin meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS.

Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym)

Rupiah terus mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis pagi, 25 Juni 2026 rupiah melemah 0,13 persen atau 24 poin ke level Rp17.976 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan, melemahnya rupiah ini karena semakin meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS atau the Fed.

Rupiah melemah terhadap dolar AS di tengah semakin meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh the Fed, membawa indeks dolar AS naik mencapai level tertinggi baru 13 bulan,”

ujar Lukman saat dihubungi Owrite pada Kamis, 25 Juni 2026.

Selain itu, investor juga mengantisipasi data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang diperkirakan akan naik 0,3 persen ke 3,4 persen. 

Iklan

Belum Pulih

Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye)

Sementara itu, dari dalam negeri Lukman mengatakan pelemahan rupiah didorong karena belum pulihnya sentimen domestik. Hal itu utamanya di pasar ekuitas setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menunda keputusan terhadap status pasar ekuitas RI.

Sentimen domestik masih belum pulih, terutama di pasar ekuitas setelah MSCI menunda keputusan akan status pasar ekuitas Indonesia hingga November yang disertai peringatan downgrade,”

katanya.

Dengan pelemahan rupiah ini, Lukman berharap BI bisa kembali menaikkan suku bunga acuan paling tidak dua kali masing-masing sebesar 25 basis poin (bps).

BI diharapkan untuk kembali menaikkan suku bunga, paling tidak dua kali 25 bps. Walau SBN sudah mulai diminati asing, namun hanya peralihan dana dari pasar equitas,”

tuturnya.

Adapun untuk perdagangan hari ini, Lukman memproyeksikan rupiah akan dibuka melemah di level Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.