PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan produksi sebanyak 800 juta pound tembaga dan 700.000 ons emas atau setara sekitar 21 ton sepanjang 2026. Target tersebut ditetapkan di tengah proses pemulihan operasi tambang bawah tanah yang masih berlangsung setelah insiden longsor di Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan produksi tambang tahun ini belum kembali normal karena kapasitas operasi di sisi hulu masih terbatas. Kondisi tersebut turut memengaruhi target produksi bijih pada 2026.
Sebagaimana diketahui bahwa tahun ini kita PTFI masih hanya dalam kapasitas 60 persen dari hulunya karena memang akibat dari longsoran yang terjadi di bulan September,”
terang Tony Wenas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR, Selasa, 14 Juli 2026.
2026 Produksi Masih Turun


Tony menjelaskan, pada 2025 Freeport mampu memproduksi sekitar 139.000 ton bijih per hari. Namun, pada 2026 produksi diperkirakan turun menjadi sekitar 124.000 ton per hari sebagai dampak dari proses pemulihan tambang.
Meski demikian, perusahaan memperkirakan produksi akan kembali meningkat secara bertahap seiring pulihnya operasional tambang.
Pada 2027, produksi bijih ditargetkan mencapai 170.000 ton per hari, kemudian naik menjadi 208.000 ton pada 2028 dan 226.000 ton per hari pada 2029. Peningkatan produksi bijih tersebut juga diproyeksikan mendongkrak produksi logam.
Freeport menargetkan produksi mencapai 1,2 miliar pound tembaga dan 1 juta ons emas atau sekitar 31 ton pada 2027. Selanjutnya, produksi diperkirakan meningkat menjadi 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ons emas atau sekitar 43 ton pada 2028.
Tahun 2027 bisa mencapai 1,2 miliar pound tembaga dan satu juta ounces emas atau sekitar 31 ton. Dan tahun 2028 terjadi peningkatan juga menjadi 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ounces emas atau 43 ton emas begitu seterusnya selanjutnya sampai dengan tahun 2030,”
ujar Tony.
Smelter Gresik Operasi September 2026


Selain memulihkan produksi tambang, PTFI juga menargetkan smelter barunya di Gresik, Jawa Timur, kembali beroperasi pada September 2026. Setelah mulai menerima pasokan konsentrat dari Papua, fasilitas tersebut akan menjalani proses peningkatan kapasitas produksi secara bertahap hingga akhir tahun.
Rencana smelter baru ini akan mulai berproduksi kembali atau mengolah memurnikan konsentrat dari Papua itu pada bulan September tahun ini dan akan dilakukan ramp up sampai dengan akhir tahun,”
imbuhnya.























