Pengesahan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) diharapkan jadi pintu masuk Indonesia menuju pusat keuangan global.
Namun, peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan Indonesia tidak bisa mengejar ketertinggalan dari Singapura dan Uni Emirate Arab hanya dengan menawarkan insentif pajak. Baik Singapura dan Uni Emirate Arab unggul jauh dari kepastian hukum.
Indonesia juga tidak boleh melihat kompetisi pusat keuangan hanya dari sisi insentif pajak. Singapura dan Dubai unggul karena memiliki kepastian hukum, institusi yang kredibel, pasar keuangan yang dalam, dan konsistensi kebijakan,”
kata Yusuf kepada Owrite, Rabu, 22 Juli 2026.
Yusuf menilai keberhasilan sebuah pusat finansial internasional tidak hanya ditentukan oleh besarnya insentif yang diberikan kepada investor.







