Harga minyak dunia naik tipis pada perdagangan Jumat, setelah Amerika Serikat (AS) mengancam mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran tanpa batas waktu. Hal ini memunculkan kekhawatiran terkait pasokan minyak mentah, setelah harga minyak turun pada sesi sebelumnya akibat prospek permintaan global yang melemah.
Dilansir dari Economic Times, pada Jumat, 14 Agustus 2026 harga minyak mentah Brent naik 9 sen atau 0,1 persen menjadi US$87,16 per barel pada pukul 01.30 waktu setempat. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 4 sen menjadi US$81,29 per barel.
Kedua patokan harga tersebut turun lebih dari 2 persen pada sesi sebelumnya, memangkas kenaikan setelah reli selama enam sesi untuk Brent dan kenaikan selama lima sesi untuk WTI. Meski demikian, keduanya masih berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan sekitar 4 persen.
Blokade Tanpa Batas Waktu


Pada Kamis, AS mengatakan bahwa pihaknya dapat mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu dan akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran karena pembicaraan gencatan senjata telah menemui jalan buntu.
Perhatikan perkembangan ini karena akan ada lebih banyak pengumuman yang datang pekan depan. Kami akan menerapkan langkah-langkah seperti yang belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara,”
kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam wawancara di program Rob Schmitt Tonight di Newsmax.
Ancaman terbaru AS ini muncul di tengah upaya Iran yang terus membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, yang sebelumnya mengangkut 20 persen pasokan minyak dunia sebelum konflik ini. Kondisi itu memicu kenaikan harga bahan bakar dan memberikan tekanan kepada Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang yang tidak populer di dalam negeri.
Selat Hormuz dalam Kendali Iran


Sementara itu, Kepala Unit Paramiliter Basj Iran yang baru saja dilantik, Hossein Taeb mengatakan bahwa Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan dan kendali Republik Islam.
Prospek perang yang berlangsung lebih lama dan berpotensi membatasi pasokan minyak diimbangi oleh proyeksi OPEC dan International Energy Agency (IEA) yang menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak. Selain itu, data menunjukkan persediaan minyak mentah AS mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari tiga setengah tahun.
Analis pasar utama KCM, Tim Waterer, mengatakan kedua faktor tersebut menjadi kekuatan yang saling mengimbangi.
Hasilnya adalah pasar yang tetap mendapat dukungan namun kesulitan untuk menembus level yang lebih tinggi secara signifikan selama tekanan-tekanan yang berlawanan ini masih berlangsung,”
katanya.
























