Gejolak geopolitik global akibat perang di berbagai kawasan dunia mulai menjadi perhatian pemerintah karena berpotensi menekan ketahanan energi sekaligus membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengatakan konflik di timur tengah dan Rusia – Ukraina, telah mengganggu rantai pasok energi global. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga dan biaya produksi energi di dalam negeri.
Kalau bagi Indonesia sendiri, dengan meningkatnya harga energi ini dampaknya itu adalah terhadap pembiayaan melalui alokasi untuk subsidi dan juga ini ada kompensasi yang disiapkan oleh negara. Itu baik terhadap BBM, ya kemudian listrik, LPG,”
kata Yuliot dalam acara EBTKE ConEx ke-12, Jakarta Pusat, Rabu, 2 September 2026.
Beban Fiskal Membengkak

Yuliot memperingatkan, beban fiskal berpotensi semakin besar apabila lonjakan harga energi global tidak diantisipasi dengan mempercepat pengembangan sumber energi alternatif, termasuk energi baru dan terbarukan (EBT).







