Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi salah satu program yang dibanggakan Presiden Prabowo Subianto, termasuk dalam berbagai forum kenegaraan, seperti terbaru pada penutupan Eastern Economic Forum (EEF) di Rusia.
Analis Kebijakan Publik, Faisal Sallatalohy, mempertanyakan sejauh mana besarnya belanja MBG benar-benar dirasakan masyarakat, terutama ketika jumlah kelas menengah terus tergerus dan kelompok menuju kelas menengah mencapai sekitar 142 juta orang.
Dia lupa kalau ada sekitar 10,63 juta rakyat bergeser keluar dari kelas menengah. 142 juta rakyat Indonesia saat ini parkir di level Aspiring Middle Class, level menuju rentan kemudian jatuh ke level kemiskinan,”
kata Faisal yang dikutip dari laman facebook pribadinya, Jumat, 4 September 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dalam membaca kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Data yang diolah Mandiri Institute dari BPS menunjukkan jumlah kelas menengah pada 2025 turun menjadi sekitar 46,7 juta orang, sementara kelompok aspiring middle class meningkat menjadi sekitar 142 juta orang.
Bahkan Kalau gunakan standar pengeluaran US$ 8,30 per hari (Rp 41.000), kemiskinan Indonesia udah menembus 64% (194 juta rakyat miskin),”
ucapnya.
Fenomena “Makan Tabungan”
Lebih jauh dia menyoroti tekanan yang dirasakan rumah tangga, terutama ketika kemampuan menyimpan pendapatan semakin terbatas.
Dikatakan Faisal, fenomena “makan tabungan” menjadi gambaran bagaimana sebagian masyarakat berusaha mempertahankan konsumsi di tengah tekanan kebutuhan hidup.
Terjadi pendalaman fenomena makan tabungan di tingkat rumah tangga Indonesia. Tabungan rakyat di perbankan menyusut hampir 20%,”
ungkapnya.
Dia kemudian menyoroti pola paycheck to paycheck, yakni kondisi ketika penghasilan yang diterima masyarakat sebagian besar langsung terserap untuk memenuhi kebutuhan dan kewajiban pembayaran.
Memicu lonjakan pola paycheck to paycheck hampir 70%: seluruh pendapatan rakyat langsung habis untuk bayar cicilan utang tanpa ada sisa untuk ditabung. Pendapatan Kerja bulan ini hanya untuk bayar pengeluaran di bulan kemarin,”
tegasnya.
Dijelaskannya, tekanan tersebut juga tercermin dari meningkatnya ketergantungan sebagian masyarakat terhadap pembiayaan pinjaman daring.
Terjerat Pinjol
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan industri pinjaman daring pada Juni 2026 mencapai Rp105,14 triliun, tumbuh 25,88 persen secara tahunan.
Mendorong peningkatan ketergantungan hidup rumah tangga terhadap utang, terutama pinjol yang meningkat hampir 30%. Saat ini total utang pinjol yang ditarik rakyat Rp105,14 triliun,”
jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Faisal mempertanyakan narasi pemerintah yang menempatkan MBG sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi.
Menjadi cerminan banyak masyarakat terjebak pola: menggunakan pinjol konsumtif sebagai jembatan penutup kekurangan pendapatan bulanan mereka,”
tambahnya.
Terlebih, BPS mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, sementara semester I-2026 tumbuh 5,45 persen.
Lalu Prabowo masih berbangga diri dengan MBG. Diistimewakan sebagai program dengan realisasi belanja paling tinggi APBN,”
terangnya.
Dia menilai, pertumbuhan ekonomi harus dilihat bukan hanya dari besarnya angka PDB, tetapi juga dari siapa yang menikmati perputaran uang dan apakah pertumbuhan tersebut mampu memperkuat daya beli masyarakat.
Dibangga-banggakan karena mampu Mendorong pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2026 capai 5,29% (3,37% Q to Q). Sangat tinggi. Bahkan jauh lebih tinggi dari pertumbuhan rata-rata negara maju Eropa yg hanya 0,5-0,6%,”
katanya.
Karena itu, Faisal mempertanyakan dampak riil dari besarnya belanja MBG terhadap kesejahteraan masyarakat.
Baginya, ukuran keberhasilan program bukan semata-mata seberapa besar kontribusinya terhadap angka pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana manfaat ekonominya menyebar ke rumah tangga.
Pertanyaannya: belanja MBG yg begitu besar, mendorong pertumbuhan ekonomi yg sangat tinggi, uangnya muter dimana ? Hasil pertumbuhan ekonominya Tersalurkan kemana ? Mensejahterakan siapa ?,”
pungkas Faisal.























