Harga minyak dunia naik pada perdagangan Jumat, dan berada di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan Juli. Kenaikan itu didorong oleh kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Serangan terbaru AS, yang menewaskan dan melukai puluhan orang termasuk warga sipil Iran, telah menyebabkan bentrokan paling sengit antara kedua negara sejak Juli. Konflik yang dimulai dengan serangan AS-Israel pada akhir Februari tersebut kini telah memasuki bulan ketujuh.
Dilansir dari Economic Times pada Jumat, 4 September 2026 harga minyak mentah Brent naik 48 sen atau 0,5 persen menjadi US$96 per barel. Sementara harga mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 55 sen atau 0,58 persen menjadi US$92 per barel.
Adapun harga minyak Brent mencatat kenaikan lebih dari 7 persen sepanjang pekan ini, sedangkan WTI naik 9,8 persen. Sehingga, kedua patokan harga tersebut berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan terkuat sejak pekan yang berakhir pada 20 Juli.
Israel Ancam Serang Iran


Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz kembali memperingatkan bahwa Israel akan melumpuhkan infrastruktur militer dan sipil Iran, termasuk fasilitas energi.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pada Kamis bahwa Washington tidak akan mengadakan pembicaraan dengan Teheran kecuali, Iran menghentikan serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Rabu bahwa kampanye AS yang diperbarui terhadap Iran tidak akan berlangsung terlalu lama. Ia mengatakan pasukan AS telah menyerang sistem radar dan rudal Iran.
Trump juga menyatakan bahwa AS telah menghancurkan seluruh peralatan baru yang hendak dibangun Iran di sepanjang Selat Hormuz, termasuk sistem pertahanan dan serangan. Ia menggambarkan serangan tersebut sebagai serangan yang sangat berat dan mengatakan pasukan AS siap melancarkan serangan lain kapan saja.
Sementara itu, Iran telah memperluas daftar kapal yang dianggapnya tidak patuh dan yang dapat dikenai denda, penyitaan, atau penahanan jika mencoba melintasi Selat Hormuz. Kapal-kapal Irak tetap termasuk di antara sedikit kapal yang diizinkan oleh Teheran untuk melintasi selat tersebut.
Skenario Harga Minyak


Bagi pasar minyak, lamanya gangguan ini akan menjadi faktor kunci. JP Morgan memperkirakan setiap tambahan satu bulan gangguan dapat mendorong harga Brent naik sekitar US$7 hingga US$8 per barel. Jika gangguan berlangsung selama tiga bulan, bank tersebut memperkirakan harga rata-rata bulanan Brent dapat mencapai sekitar US$114 per barel.
Goldman Sachs juga telah memperingatkan bahwa harga minyak Brent berpotensi naik hingga US$120 per barel jika gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz terus berlanjut. Namun, skenario dasar mereka mengasumsikan bahwa ketegangan di Timur Tengah pada akhirnya akan mereda.
Bank tersebut memperkirakan harga rata-rata minyak Brent akan berada di level US$80 per barel pada kuartal IV dan US$75 per barel tahun depan, sambil mencatat bahwa risiko masih cenderung ke arah kenaikan jika gangguan di Selat Hormuz dan Laut Merah berlanjut lebih lama dari yang diperkirakan.


























