Nama Hery Susanto menjadi perbincangan hangat usai Kejaksaan Agung (Kejagung) menangkap Ketua Ombudsman RI tersebut, pada Kamis, 16 April 2026.
Hery ditangkap hanya dalam hitungan hari setelah dirinya resmi menjabat sebagai Ketua Ombudsman untuk periode 2026 – 2031 usai mengucapkan sumpah di hadapan Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan, Jumat, 10 April lalu.
Lalu, siapa Hery Susanto?
Hery diketahui lahir di Cirebon pada 09 April 1975. Dalam catatan resmi di situs Ombudsman RI, Hery juga sempat menempuh S3 Doktor Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada 2024.
Sebelum melangkahkan kaki sebagai Ketua Ombudsman, Hery sebelumnya merupakan Anggota Ombudsman RI periode 2021–2026 dan kembali terpilih melalui uji kelayakan dan kepatutan Komisi II DPR RI pada Januari 2026.
Pria tersebut memiliki latar belakang sebagai aktivis yang aktif dalam pengawasan pelayanan publik. Selama bertugas di Ombudsman RI, ia fokus pada pengawasan sektor kemaritiman, investasi, dan energi. Ia juga aktif mendorong upaya pencegahan maladministrasi serta peningkatan kualitas pengawasan pelayanan publik.
Sementara itu, pendidikan doktoralnya ditempuh pada Program Studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup di Universitas Negeri Jakarta. Sebelum bergabung dengan Ombudsman RI, Hery memiliki pengalaman panjang di bidang advokasi.
Ia pun pernah menjabat sebagai Tenaga Ahli Anggota DPR RI Komisi IX pada periode 2014–2019. Ia juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Komunal selama dua periode, yakni pada periode 2004–2009 dan 2009–2014.
Selain itu, Hery pernah menjadi Ketua Umum Koordinator Nasional Masyarakat Peduli BPJS pada periode 2016–2021. Ia juga menjabat sebagai Ketua Bidang Kesehatan Pengurus Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam pada periode 2017–2022.
Selama menjabat sebagai Ombudsman RI, Hery Susanto dikenal aktif menyuarakan penguatan kelembagaan Ombudsman melalui revisi Undang-Undang Ombudsman. Ia juga mendorong peningkatan kualitas pengawasan pelayanan publik serta memperkuat kolaborasi multipihak melalui pendekatan Eptahelix untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik di Indonesia.


